Rabu, 30 Maret 2011

Nostalgia : KOTA LAMA

oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 05 Juni 2010 jam 17:16

Sebagai kota yang sudah berusia tua, 464 tahun pada 2 Mei 2011, Semarang memiliki banyak bangunan kuno, peninggalan zaman Belanda. Meski banyak yang kalah melawan waktu dan kepentingan komersial, masih ada beberapa bangunan yang bertahan, bahkan menjadi penanda (tetenger) sebuah kawasan.

Bangunan2 itu terletak di jantung Kota Semarang. Ada yg menyebutnya sebagai Kawasan Kota Lama. Dulunya disebut kampung Eropa karena di sinilah bermukim orang2 Belanda maupun orang Eropa lainnya.

Kawasan Kota Lama masih menyisakan sejuta pesona keindahan arsitektur Eropa meski telah dilecehkan secara budaya oleh rancangan bangunan2 baru yg tidak memperhatikan keunikan, karakter, dan cita rasa kawasan beresejarah kota.

Keberadaan Kawasan Kota Lama itu sangat terkait dengan kekuasaan pemerintah Belanda di Semarang. Kekuasaan itu berawal dari bangkrutnya kongsi dagang Hindia Timur Verenigde Ooost-indische Compagnie (VOC) pada 1799. Di bawah pemerintahan Kolonial Belanda, Semarang dijadikan sebagai "Batavia Ke dua". Waktu itu telah berkembang pelabuhan dagang, juga permukiman dalam Kota Benteng De Vijfhoek dan Kota Benteng De Europesch Burt, yang sekarang dikenal sebagai Kawasan Kota Lama.

Kini, kekunoan kota lama tinggal melekat pada bangunan2 yang tersisa, itupun sedikit banyak telah mengalami perombakan. Situasi dan nama2 jalan tinggal kenangan, sebab sejak kemerdekaan nama2 jalan sudah diindonesiakan. Misalnya, Noorderwalstraat diganti Jln. Merak, Westerwalstraat diubah namanya menjadi Jl. Mpu Tantular, Zyderwalstraat bertukar nama dengan Jl. Kepodanga, dan Oosterwalstraat lenyap diganti Jl. Cendrawasih.

Jika nama jalan berubah total, tidak demikian dengan nama tempat. namun, banyak yang keseleo lidah ketika mengucapkannya. Pendrikan, misalnya, berasal dari kata van Hendrik-lan. Dulu di kawasan ini tinggal seorang tuan tanah berpengaruh bernama van Hendrik (tapi ada yang berpendapat tempat ini diambil dari nama Prince Hendrik lan, nama suami Ratu Wilhelmina). Seteran dari kata schietterrein (lapangan tembak)> Memang betul, di sini dulu terdapat lapangan tembak militer. Cenilan aslinya Genie-lan, karena di tempat ini dulu ada asrama pasukan Genie (Zeni). Masih ada Sentiling yg berasal dari kata Koloniale Tentoonstelling (Pekan Raya Kolonial), Bojong dari kata boot-jonggen, dan Pasar Ya ik, menner (panggilan untuk tuan2 Belanda waktu itu).


________________

Bodjongweg

Bojong, sekarang ini dikenal dengan nama Jl. Pemuda, tampangnya sekarang sudah jauh berbeda dibandingkan dengan wajahnya tempo dulu. Dahulu kala di sepanjang jalan ini bertebaran pohon asam dan kenari yang akan memayungi langkah kita saat ber jalan2 di siang hari.

Pohon2 asam ini sempat menimbulkan decak kagum P.A. van der Lith dan John F. Senellemen, penulis Belanda. Sedangkan S. Kalff memuji barisan pohon kenari dengan sebutan amandelboomen van het Oosten (pohon2 amandel dari Negeri Timur). Bahkan Otto Knaap dalam tulisannya Semarang in Vogelvucht menyimpulkan, dibandingkan dengan indahnya Jl. Salemba di Jakarta dan Jl. Simpang di Surabaya, Jl. Bojong merupakan mahkota keindahan dari semuanya itu.

Sekarang, sisa2 keindahan Bojong hanya bisa dinikmati melalui peninggalan2 bangunan kolonial yang tersebar di sepanjang jalan itu. Di ujung utara ada Jembatan Berok yang cukup tua, dan dalam perkembangannya mengalami beberapa kali perubahan wajah. Jembatan ini di bangun pada masa VOC dengan nama Government Brug karena jembatan ini menuju De Groote Huis, kantor Gubernur VOC. Dari kata brug jembatan itu terletuplah nama jembatan Berok.

Tak jauh dari jembatan Berok terdapat Gedung papak atau biasa dikenal Het Groote Huis yang dibangun pada 1854. Sejak 1880 gedung ini berfungsi sebagai Balai Kota Semarang, kantor polisi dan karesidenan, sampai kantor pos dan keuangan. Pernah juga dijadikan sebagai kantor Gubernur pada masa Gubernur Wongsonegoro. Tahun 1954 gedung ini terbakar dan memusnahkan semua ardip yang ada di dalamnya.

Di sebelahnya persis terdapat Gedung Kantor Pos dan Telegraf Semarang yang didirikan tahun 1906. Sampai saat ini masih digunakan sebagai kantor pos.

Di sepanjang jalan ini ada juga hotel yang tak asing bagi warga Semarang, Hotel Dibya Puri. Awalnya, hotel ini bernama Hotel Du Pavillon yang menjadi hotel Eropa ke-3 di Semarang. Cikal bakalnya adalah bangunan villa besar bertingkat dengan halaman luas. Tentang keindahannya, R.A. Kartini menuliskannya dalam Een Gouverneur Generalsdag begini, "Bukan main takjub kami waktu gapura kehormatan yang bermandikan lampu cahaya di Hotel Du Pavillon itu tampak. Pandangan itu membuat kami teringat pada dongengan2 yang ajaib." Kala itu R.A. Kartini dan saudara2nya pergi ke Semarang dalam rangka menyambut Gubernur Jenderal Rossebom dan Nyonya.

Nuansa kolonial di sekitar Bojong tersirat pada Gedung Lawang Sewu yang berada di ujung selatan Bojong. Disebut Lawang Sewu (Seribu Pintu) karena memiliki banyak pintu (meski jumlahnya tidak sampai seribu). Gedung ini merupakan bangunan khas di Kota Semarang milik NIS (Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschapij (perusahaan kereta api pertama di Indonesia), yang berdiri tahun 1864. Saat ini gedung tersebut sedang direnovasi.

Di seberang Lawang Sewu berdiri Wisma Perdamaian yang sekarang menjadi rumah dinas Gubernur Jawa Tengah. Meski mengalami banyak "operasi plastik", sisa2 keasliannya sebagai bangunan masa lalu masih kentara. Dibangun oleh Nicolaas Hartingh dengan nama De Vredestein atau Istana Perdamaian, gedung ini dibangun pada masa VOC dan dipakai sebagai tempat resmi kediaman Gubernur VOC untuk kawasan provinsi Pantai Tenggara.

Kalau ingin menikmati suasana Eropa, bisa dilihat Kota Lama. Bangunan berciri Portugis dan Italia dapat ditemui pada Gereja Imanuel (Gereja Blenduk). Beberapa gedung di Jl. Letjen Suprapto, Jl. Gelatik, Jl. Taman Srigunting, Jl. Kedasih lebih bercirikan Perancis Selatan. Satu2nya bangunan bergaya Belanda hanyalah gedung bekas Pengadilan Negeri Semarang. Thomas Karsten, arsitek Belanda terkenal, memadukanunsur lokal dan Belanda untuk karyanya pada gedung yang sekarang ditempati oleh perusahaan asuransi Jiwasraya dan perusahaan angkutan Jakarta Lloyd.

Dari beberapa gedung tadi, Gereja Imanuel atau Gereja Blenduj merupakan tetenger (penanda) Kota Lama Semarang. Usianya kurang lebih 250 tahun. Mulanya dibangun Portugis kemudian disempurnakan oleh Belanda. Pada renovasi tahun 1894 - 1895 oleh arsitek Belanda, HPA de Wide dan Westmass, gereja ini memperoleh dua ciri khasnya : dua buah menara jam dan atap setengah lingkaran (orang Jawa menyebutnya belnduk). Bangunan ini masih berfungsi sebagai tempat ibadah dan masuk peringkat pertama klasifikasi A konservasi bangunon kuno di Kota Semarang. Ini artinya bangunan itu tidak boleh dirombak, dibongkar atau dikurangi.

Tak bisa ditinggalkan adalah Stasiun Tawang, yang merupakan stasiun terbesar di Semarang. Stasiun ini didirikan pada 17 Juni 1864, bersamaan dibangunnya rel kereta api Semarang - Solo - Yogyakarta.

Sebelumnya Semarang sudah memiliki stasiun di Tambaksari Jurnatan (yang kemudian berubah menjadi terminal bis antar kota, dan sekarang menjadi pusat pertokoan). Berhubung diperlukan stasiun yang lebih luas, dibangunlah stasiun Tawang, yang dikelola oleh NV NIS. Kini Stasiun Tawang masih berfungsi sebagai stasiun dan dikelola oleh PT. KAI.

Masih banyak lagi bangunan lain yang memiliki nilai sejarah tinggi di kota ini. Yang menjadi pertanyaan, mampukah bangunan2 itu bertahan dan berdiri kokoh di tengah2 pusaran arus perubahan yang amat deras? Akankah kepentingan2 komersial menang melawan kepentingan sejarah yang terkadang jauh dari nilai komersial? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.

Source : Drs. Hamdan Tri Atmaja, M.Pd, Intisari, Mei 2005.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar