Rabu, 30 Maret 2011

Petilasan Kanjeng Sunan Kuning

Petilasan Kanjeng Sunan Kuning

oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 04 Juni 2010 jam 22:07



Konon, di suatu tempat, hidup seorang petani kaya bernama Saribin. Dia memiliki ratusan kerbau dengan kandang yang amat luas.

Pada suatu malam, seluruh kerbaunya hilang, tidak ada seorangpun yang bisa dimintai keterangan. Saribin berusaha mencari kerbau2nya ber hari2 bahkan ber minggu2. Tidak terasa, perjalanan Saribin sampai di perbukitan kembar yang dikenal dengan nama Widoro Kandang dan Widoro Kayangan. Pepohonan di kedua perbukitan tersebut tumbuh subur sehingga udara terasa sejuk dan nyaman.

Saribin melepaskan lelah, dia duduk di bawah sebatang pohon. Karena kelelahan dia pun tertidur. Dalam tidurnya, Saribin bermimpi didatangi seorang tua, berambut dan berjenggot putih serta berpakaian serba putih. Dengan suara ketuaannya dan ter patah2, orang tua itu berkata kepada Saribin,

"Le, Saribin, kamu tidak usah bersedih. Kerbau2mu tidak hilang. Sayalah yang mengambilnya. Sengaja saya pinjam untuk membersihkan rumput2 di tempat ini. Saya minta maaf. Apa yang saya lakukan itu menyusahkanmu. Sekarang bangunlah. Bawalah kerbau2 muitu!".

Begitu selesai berucap, orang tua itu pun lenyap, namun pada saat bersamaan datang angin cukup kencang dengan membawa aroma yang sangat harum.

Saribin terkejut, dan terbangun. Dia hampir tak percaya dengan apa yang disaksikannya. Seluruh Kerbau miliknya ada di depan matanya sekarang. Yang lebih mengherankannya lagi, udara di sekitarnya masih bearoma yang sangat harum seperti di mimpinya.

Digiringnya kerbau2 miliknya kembali pulang ke kandang. Tidak seperti saat dia berangkat, perjalanan pulangnya kini dirasakan sangat ringan dan cepat, terlebih lagi aroma harum itu masih saja menyertainya sampai Saribin masuk ke dalam rumahnya.

Sambil melepaskan lelah, Saribin merenungkan seluruh kejadian yang dialaminya. Ia berkeyakinan bahwa perbukitan tempat dia beristirahat itu ditempati makhluk ghoib.

Saribin akhirnya mengambil keputusan hendak bertapa di tempat itu. Ia pun kembali ke tempat itu dan di situlah kemuduan dia duduk bersila melepaskan semua keinginan keduniawiannya. Makan, minum dan tidur pun dia tinggalkan.

Saribin bertekad tidak akan meninggalkan tempat itu sebelum mendapatkan sesuatu yang melegakan hatinya. Hingga pada suatu malam, antara sadar dan tidak, datanglah di hadapannya orang tua yang dulu pernah menemuinya dalam mimpi. Wajahnya amat bersih, berjenggot putih dan berpakaian serba putih pula.

"Hai, Saribin, kerbau2 mu sudah kau temukan bukan?"

"Sudah, Mbah,"

"Nah, karena kerbau2mu sudah saya kembalikan, sekarang saya ingin meminta sesuatu kepadamu. Bagaimna? Sanggup kamu memenuhinya?"

"Akan saya usahakan untuk memenuhinya, Mbah."

"Bagus. Tempat yang kau gunakan untuk bertapa ini, dahulu pernah digunakan untuk beristirahat dan berunding tiga sunan yang terkenal di Pulau Jawa ini."

"Aduh, kalau begitu saya minta maaf, Mbah. Saya tidak tahu," kata Saribin dengan gemetar.

"Tidak apa-apa, Le. Ke tiga Sunan itu pertama Kanjeng Sunan Kuning atau Mangkurat Mas. Kedua, Kanjeng Sunan Kali atau Mangkurat Man. Ketiga, Kanjeng Sunan Ambarawa atau Syekh Maulana Maghribi Kendil Wesi.
Setiap sunan dikawal oleh seorang penasihat. Sunan Kuning dikawal oleh Kyai Sekabad. Sunan Kali dikawal oleh Kyai Jimat. Sunan Ambarawa dikawal oleh Kyai Majapahit.
Pada saat berunding itu, ketiga sunan duduk berjajar dari barat ke timur. Yang duduk paling barat adalah Sunan Kuning. Di tengah Sunan Kali dan yang timur Sunan Ambarawa. Merka duduk di atas batu.
Pesan saya, rawatlah baik2 tempat ini. Mudah2an Allah akan memberi kemudahan kepada engkau dan anak keturunanmu dalam mencari rezeki, le. Tetapi ingat, setelah cukup uangmu, bergegaslah engkau ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji."

Begitu selesai kalimat itu, hilang pulalah orang tua itu.
Sejak saat itu, Saribin merawat tempat tersebut dengan baik. Kehidupan Saribin semakin membaik, hasil pertaniannya melimpah, kerbau2 nya beranak pinak. Sesuai amanat yang diterimanya, Saribin pergi ke Tanah Suci.

Akhirnya, ke tiga petilasan itu dibuatkan pelindung (berupa rumah kecil) oleh Saribin. Pada hari2 tertentu, khusunya malam Jum'at kliwon, banyak penduduk sekitar yang datang berziarah ke tempat itu. Saribin kemudian dikenal sebagai juru kunci petilasan tersebut.

Sampai sekarang, ketiga petilasan itu masih ada. Tempat itu kini lebih dikenal dengan Sunan Kuning dan terletak di Wilayah Kecamatan Semarang Barat, Kelurahan Kalibanteng Kulon, lebih satu setengah kilometer dari Bandara Ahmad Yani.

_________________________________

Masjid Tiban, Makam Aulia Sunan Kuning
Date November 7, 2007

Tidak banyak yang tahu siapa Sunan Kuning. Nama ini lebih dikenal sebagai tempat nista di Semarang. Sunan Kuning sebenarnya adalah Raden Mas Garendi, a.k.a Sunan Amangkurat III, salah satu raja dalam trah Kerajaan Mataram dan pecahan-pecahannya. Sunan Kuning termasuk murid Sunan Kalijaga, satu angkatan dengan Sultan Hadiwijaya (Pajang), Ki Ageng Pamanahan, Ki Ageng Penjawi, dan Ki Juru Martani.

Tidak banyak yang tahu juga di mana makamnya. Ternyata makam Sunan Kuning ada di Ds. Macanbang, Kabupaten Tulungagung. Makamnya ada di belakang masjid yang dikenal orang sebagai Masjid Tiban. Namun demikian — tanpa bermaksud buruk — seperti halnya makam-makam tua, tempat ini lebih banyak digunakan sebagai kegiatan syirik seperti pencarian nomor togel, wangsit, pusaka, dll.

Berikut foto-fotonya:

Atap masjid yang khas.

Ruangan utama masjid. Kelihatan sekali kalau masjid ini sudah tua sekali.

3 komentar:

  1. trus,sejarah nya kok tempatnya semarang,dijadikan lokalisasi gmana

    BalasHapus
  2. bingung mas...???amangkurat itu kan keturunan nya ki ageng pamanahan..kok bisa beda generasi jd 1 angkatan..?

    BalasHapus
  3. gapapa, semua sejarah dikumpulin semua, diteliti, baru disimpulkan. coba baca:http://m.merdeka.com/peristiwa/penutupan-lokalisasi-sunan-kuning-berkali-kali-ditolak.html

    BalasHapus