Senin, 06 Februari 2012

| BIDIK |

Photo by Adhitia KC
 

 Gereja Blenduk (Church Nederlandsch Indische Kerk) was 
made in 1750 with a dome roof restored in 1894


 Gedung Batu (Sam Poo Kong)


 Gedung Lawangsewu


 Sunset @ Pelabuhan Tanjungmas


Staisun Tawang


Gedung Balaikota Semarang



Sabtu, 23 April 2011

Sedjarah "Dhoegdheran Semarang":

oleh Welcome To Semarang, Indonesia
pada 05 Februari 2010 jam 20:55



Oemat Islam Semarang soedah ta' asing lagi dengan dhoegdheran. Meskipoen zaman soedah beroebah, tetep sadja traditie ini mangsih tetep bertahan. Kalaoe poen dibandingken dengan Pasar Semawis atawa PRPP jang diselenggaraken beberapa tahon jang laloe, djelas dhoegdheran mangsih melekat koeat di hati masjarakat walaoe tak dipoengkiri oemoer dhegdheran soedah mentjapai satoe abad lebih.

Sedjak kapan dhoegdheran itoe berlangsoeung? Menoeroet sedjarah dhoegdheran pertama kali digelar tahoen 1881 oleh Boepati Semarang Raden Mas Toemenggoeng Arjo Poerboningrat. Boepati satoe ini dikenal kreatif dan memiliki djiwa seni tinggi sehingga menggagas satoe atjara oentoek memberi sematjam pertanda awal waktoe poeasa lantaran oemat Islam pada masa itoe belon memiliki keseragaman oentoek berpoeasa. Sang boepati memilih soeatoe pesta dalam bentoek traditie goena menengahi terdjadinja perbedaan dalam memoelai djatoehnja awal poeasa.

oentoek menandai dimoelainja boelan Ramadhan itoe, maka diadaken oepatjara memboenjiken soeara bedoeg (Dhoeg..dhoeg..dhoeg) sebagai poentjak "awal boelan poeasa" sebanjak 17 (toejoeh belas) kali dan diikoeti dengan soeara dentoeman meriam (dher..dher..dher...) sebanjak 7 kali. Dari perpadoean antara boenji dhoeg dan dher itoelah jang kemoedian mendjadiken traditie atawa kesenian jang digagas oleh Boepati Raden Mas Toemenggoeng Arjo Poerboningrat itoe diberi nama "dhoegdheran".



Selain boenji bedhug dan meriam itoe, di dalam pesta rakjat dhoegdheran ada djoega mascot dhoegdheran jang dikenal dengan istilah “Warak Ngendhog”. Warak Ngendhog ini adalah seboeah mainan djenis binatang rekaan jang bertoeboeh kambing dan berkepala naga dengan koelit seperti bersisik diboeat dari kertas berwarna-warni jang terboeat dari kayoe djoega dilengkapi beberapa teloer reboes sebagaoeu diselenggaraken dhoegdheran kali pertama itoe, Semarang sedang krisis pangan dan telor meroepakan makanan mewah.

Pesan di Balik Dhoegdheran.
Meski duhoegdheran soeudah mendjadi sematjam pesta rakjat dan soedah mendjadi traditie jang tjoekoep koeat dengan adanja perlombaan, karnaval, dan tarian, tetep sadja dhoegdheran ta' lepas dari poentjak ritoealnja beroepa taboeh bedhoeg dan halaqah jang mendjadi akhir dari traditie jang soedah bertahan seabad lebih itoe. Karena itoelah, poentjak ritoeal ini boekan semata-mata sekedar sebagai traditie (kesenian rakjat), tapi salah satoe boedaja Islam Semarang jang poenja pesan.

Pertama, salah satoe pesan jang coekoep koeat digelarnja traditie(atawa boedaja) dhoegdheran ini adalah pengoemoenan dimoelainja boelan soetji Ramadhan. Pengoemoenan itoe dilambangken dengan ditaboehnja bedhoeg jang mendjadi satoe “tetenger”. Djoega, pemoekoelan bedhoeg itoe djadi konsensus jang menegoehken atawa memberiken 'justification' ketetapan djatoehnja tanggal 1 boelan Ramadhan pada esok hari, apalagi oemat Islam --tidak hanja di Semarang-- kerapkali memiliki perbedaan dalam mendjalankan ibadah poeasa di boeulan soetjii Ramadhan.

Selain itooeuasa. Bentuk pendidikan itu dilambangkan dengan adanya warak ngendok yang dapat diartikan suatu lambang jang sarat dengan makna. Karena arti keseloeroehan warak ngendhog itoe adalah seseorang haroeslah soeutji, bersih dan memantapken ketaqwaan kepada Allah dalam mendjalani poeasa. Karena itoelah, ini bisa mendjadi pembeladjaran bagi anak dalam mengenal ibadah poeasa! (source: n. mursidi)

Sedjarah Perkeretapian di Semarang

oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 11 Februari 2010 jam 16:51


STASIUN SAMARANG NIS 1 tampak dari
loear tanggal 10 agoestoes 1867


Stasiun pertama NIS di Semarang berada di Tambaksasi (Kemidjen), bernama Stasiun SAMARANG NIS di dekat Pelaboehan Semarang. Stasiun Tambaksari ini adalah stasiun oedjoeng, ataoe dalam bahasa Belanda diseboet kopstation. Tahoen 1914 stasiun Tambaksari dibongkar oentoek memoengkinkan pembangoenan djalan rel ke stasiun NIS jang baroe di Tawang. Sebagian bangoenan stasiun Tambaksari masih dipakai oentoek goedang, sehingga kemoedian dikenal sebagai stasiun Semarang Goedang.
Tampak Stasiun Samarang NIS I berbentoek hoeroef "U"

Dengan soesah pajah pada 10 Februari 1870 selesailah djalur sampai ke Solo, setahoen kemoedian pembangoenan djalan rel telah sampai ke Jocjakarta. Akhirnja, pada 21 Mei 1873 djaloer Semarang-Soerakarta-Jocjakarta, termasoek tjabang Kedoengdjati-Willem I (Ambarawa) diresmiken pemakainnyja. Pada tahoen itoe selesai pula aloer Batavia-Butenzorg. Melihat besarnja kesoelitan jang dihadapi NIS, tidak ada investor jang tertarik oentoek membangoen djalan kereta api. Terpaksa pemerintah terjoen langsoeng. Pemerintah mendiriken peroesahaan Staat Spoorwagen (SS). Djaloer rel pertama jang di bangoen oleh SS adalah antara Soerabaia-Pasoeroean sepandjang 115 kilometer jang diresmiken pada 16 Mei 1878.

Setelah NIS maoepoen SS kemoedian terboekti mampoe meraih laba, bermoentjoelan belasan peroesahaan2 kereta api swasta besar maoepoen ketjil. Oemoemnja mereka membangoen djalan rel ringan ataoe tramwagen jang biaja pembangoenannnja lebih moerah. Tramwagen biasanja di bangoen di sisi djalan raja. Dan karena konstruksinja jang ringan, ketjepatan kereta api tidak bisa lebih dari 35 kilometer per djam.

Di antara peroesahaan2 terseboet jang mempoenjai djaringan terpandjang adalah Semarang Joana Stoomtram Maatschappj (SJS) sepanjang 417 kilometer dan Semarang Tjheribon Stoomtram Maatschappj (SCS) sepandjang 373 kilometer. jang terpendek adalah Poerwodadi-Goendih Stoomtram Maatschappj (PGSM) jang hanja mempoenjai djaringan sepandjang 17 kilometer

Lokomotif Pertama
Stasiun Pertama – Prototipe Stasiun Tanggoeng

Meskipoen djaloer Semarang-Tanggoeng, baroe diresmiken pada 10 Agustus 1867, tahoen 1863 NIS telah memesan doea boeah locomotif dari pabrik Borsig di Berlin, Djerman. Kedoea locomotif itoe dirantjang oentoek nantinja melajani djaloer antara Kedoengdjati dan Wilem I (Ambarawa) jang di beberapa tempat mempoenjai kemiringan sampai 2,8 persen. Ketika itoe locomotif boeatan Borsig banjak dipakai oleh peroesahaan2 kereta api di Belanda.

Stasiun Tanggoeng telah mengalami peroebahan bentoek

Setahoen kemoedian doea locomotif dikirim ke Semarang, tapi baroe pada 22 Juni 1865 moelai dioperasikan, masing-masing dengan nomor seri NIS 1 dan NIS 2. karena djaloer kereta api pada saat itoe baroe dalam tahap pembangoenan, NIS 1 dan NIS 2 dimanfaatkan oentoek mempertjepat pemasangan rel, sekaligoes oentoek melatih petoegas jang akan mengoperasikan dan memelihara locomotif2 terseboet. Sementara itoe kedatangan locomotif oeap terseboet disamboet masjarakat dengan rasa kagum tapi sekaligus tajut. Seperti dikatakan Liem Thian Joe dalam buku ’Riwayat Semarang’ (1933), ”Publiek Priboemi dan Tionghoa pertjaja, itoe kepala spoor didjalanken dengan kekoeatan ........ setan”.

Stasiun Kedoengdjati – Kondisi saat awal pembangoenan


Pada akhir 1866 empat locomotif boeatan Beyer Peacock, Manchester, Inggris itoe tiba di Semarang dan diberi nomor seri NIS 3-6. selain nomor seri keempat locomotif itoe mendapatkan nama, masing-masing ’JP de Bordes’ (nama seorang pedjabat NIS), ’Merapi’, ’Merbaboe’ dan ’Lawoe’. Nama-nama terseboet pada satoe sisi ditoelis dalam aksara latin, pada sisi lain dalam aksara Djawa. Namoen penggoenaan keempat locomotif setjara resmi baroe pada 10 Agustus 1867, bersamaan dengan pembukaan djaloer Semarang-Tanggoeng.

Sampai invasi Jepang ke Indonesia tahoen 1942-1945, rel-rel NIS / SS banyak dibongkar, teroetama gauge 1.435 milimeter, dipindah bangoen ke Soematera – dibangoen rel dari Soematera Barat ke Riaoe – djaloer rel soedah selesai dibangoen namoen Djepang soedah kalah Perang Doenia II, sehingga rel itoe beloem pernah sempat terpakai.

Pasca Kemerdekaan RI
Setelah Djepang pergi dari Boemi Pertiwi ini, Pemerintah RI jang baroe mengakuisisi SS jang berkantor poesat di Bandoeng mendjadi kantor kereta api milik negara RI. Dimoelai dari tahoen 1950 SS diganti Direktorat Djenderal Kereta Api (DDKA), tahoen 1950-1963 mandjadi Djawatan Kereta Api DKA, tahoen 1963-1971 menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), tahoen 1971-1990 mendjadi Peroesahaan Djawatan Kereta Api (PJKA), tahoen 1990-1999 mendjadi Peroesahaan Umum Kereta Api (Perumka) dan tahoen 1999 sampai sekarang ini menjadi BUMN PT Kereta Api (Persero). (Source : Ir. Hartono AS, MM, 2004).


Stasiun Toentang 1910, masih rel gauge 1435 mm


Stasiun Toentang pasca DKA, dengan rel gauge 1067 mm

Herman Thomas Karsten (1885-1945), Arsitek Lawangsewoe dan Pasar Djohar Semarang.

oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 18 Februari 2010 jam 15:25
Herman Thomas Karsten adalah arsitek lulusan Technische Hoogeschool di Delft yang masuk tahun l904. Karsten dilahirkan pada tahun 1884 di Amsterdam dari keluarga terpelajar. Ayahnya seorang profesor dalam ilmu filsafat dan wakil ketua Chancellor (Pembantu Rektor/Direktur) di Universitas Amsterdam sedang ibunya berasal dari Jawa Tengah. Semasa mahasiswa, sejak tahun pertama, Karsten muda aktif di perkumpulan mahasiswa sosial demokratis (STY = Social- Technische Vereenaging van Democratische Ingenieur en Architecten), yaitu suatu kelompok mahasiswa teknik arsitekur berhaluan demokrasi. Arsitek Herman Thomas karsten membeli biro arsitek milik Henri Maclaine Pont pada tahun 1915, kakak tingkatnya yang dua tahun lebih tua darinya.Tahun 1908 Karsten menjadi anggota pengurus bagian perumahan dari organisasi yang memegang peranan penting dalam masalah perumahan dan perencanaan kota. Padahal pada masa itu pada jurusan Arsitektur di Delft, kurang memperhatikan masalah perumahan maupun perencanaan kota.
Thomas dan Soembinah Karsten bersama tiga dari empat anak mereka.

Tahun 1913, pengalaman Karsten diperoleh dengan diadakannya Kongres Perumahan Internasional di Schevenigen Belanda yang secara khusus membahas permasalahan kenyamanan perumahan di Indonesia yang buruk, terutama pada sistem sirkulasi udara dan peneraangan alaminya, dengan mengetengahkan kondisi kampung-kampung di Semarang. Pengalaman selanjutnya, kunjungan ke Berlin; dimana Berlin adalah sebuah kota yang sangat maju dalam perencanaan kota dan perumahan. Bidang yang menjadi ajang kiprahnya di Indonesia sama dengan bidang yang menjadi latar belakangnya, yaitu bangunan dan perencanaan kota. Beberapa tahun sebelum Karsten datang ke Indonesia, sudah ada aktivitas~aktivitas lokal dalam perencanaan kota.
Beberapa peristiwa yang dianggap dapat dipakai sebagai tonggak perkembangan perencanaan kota modern di Indonesia, adalah modern di Indonesia, adalah:
Revolusi Industri di Eropa. Hal ini secara tidak langsung memberikan dua pengaruh penting. Pertama, peningkatan kebutuhan bahan mentah, menyebabkan timbulnya kota-kota adininistratur di Indonesia. Kedua, berkemhangnya konsep-konsep perencaan kota modern yang tercetus sebagai tanggapan atas revolusi industri Misalnya konsep “Garden City oleh Ebeneser Howard. Kesemuanya ini juga mempengaruhi Karsten dalam berkarya Indonesia .Politik kulturstelsel menyebabkan berkembangnya perkebunan tanaman keras, dan pula dianggap sebagal awal berkembangnya wilayah pertanian dan kota-kota administratur perkebunan Politik Etis (Etische Politiek). Politik mempunyai dampak bagi perkembangan perencanaan kota di Indonesia, dengan dikembangkannya perbaikan kampung kota (1934) Pengembangan Pranata dan Konstitusi Baru. Terbitnya UU Desentralisasi Decentralisatie Besluit Indisehe Staatblad tahun 1905/137, yang mendasari terbentuknya sistem kotapraja (Staadgemeente) yang bersifat otonom. Hal ini memacu perkembangan konsepsi perencanaan kota kolonial modern, khususnya Garden City atau Tuinstad”. Pada pelaksanaan poin 4 (empat) yaitu politik dosentralisasi yang memberikan otoritas kepada daerah dalam pengembangannya, kota-kota mulai berkembang pesat, salah satu penyebabnya adalah tumbuh dan berkembangnya perkebunan dan industrialisasi. Akibatnya, penduduk terlalu padat, keadaan kota semakin buruk, terutama dalam hal sanitasi dan pengadaan air minum. Dalam situasi seperti ini Karsten diangkat manjadi penasihal otoritas 1okal untuk perencanaan kota Semarang, bekerja sama dengan jawatan pekerjaan umum Selain dari pada itu Karsten manjadi bagian dalam kelompok orang-orang Belanda pendukung kemerdekaan untuk Indonesia Karsten sangat memperhatikan kebudayaan penduduk asli, terutama pada arsitektur dan tata ruang Kota Sebagai penasehat, Karsten menyusun suatu paket lengkap untuk perencanaan berbagai kota, dimana didalamnya terdiri dan perencanaan kota (town planning), rencana detail (detail plan) dan peraturan bangunan (building regulation). Di Jawa Karsten merencanakan sembilan dari sembilan belas kota-kota yang mendapat otoritas lokal. Kesembilan kota tersebut adalah Semarang, Bandung, Batavia (Jakarta), Magelang, Malang, Buitenzorg (Bogor), Madiun Cirebon, Meester (Jatinegara), Yogya, Surakarta, dan Purwokerto.

Dalam kiprahnya di Semarang, Karsten menerapkan prinsip perencanaan kola, penzoningan, tingkatan/hirarki jalan-jalan seperti di Eropa. Perencanaannya juga mengacu perencanam pemerintah kota sebelum Karsten datang. Pengaruh Karsten dalam pengembangan kota adalah dengan adanya pembagian lingkungan yang tidak lagi berdasarkan suku, tetapi kelas ekonorni, yaitu tinggi, menengah dan rendah. Dalam perencanaan daerah Candi, Semarang, pengaruh gaya Eropa cukup dorninan terutama konsep “garden city”. Hal ini terlihat dengan adanya taman umum dan halaman pada setiap rumah. Untuk perletakan rumah, taman umum dan ruang terbuka, Karsten sejauh mungkin mengikuti keadaan topografi, kemiringan-kemiringan dan belokan-belokan yang ada. Pembagian tanah dan arah jalan yang hanya terdiri dan dua kategori (utama dan sekunder), selain mengikuti keadaan tanah juga dibuat sedemikian rupa sehingga rumah-rumah dan taman-taman umum dapat memiliki pemandangan indah ke laut sebelah utara.
Bagaimana halnya dengan kiprah Karsten di dalam perercanaan dan perancangan bangunan?. Beberapa bangunan yang telah mewarnai arsitetur kota, khususnya kota Semarang adalah gedung SMN (Stoomvart Nederland), sebuah perusahaan pelayaran kolonial, yang dibangun di kawaaan pusat kota - waktu itu den - tahun 1930.
Gambar (design) Lawangsewoe diboeat tahoen 1901 oleh Herman Thomas Karsten
Gedung kantor perusahaan kereta api (dahulu benama Zuztermaatschapijen, kemudian, Joana Stroorntraam-Maatchappiej) di jalan MH Thamrin Semarang juga hasil rancangannya. Selain bangunan kantor Karsten juga dalam kerja samanya dengan pernerintah kota, membangun banyak pasar dan museum.
Lawangsewoe dibangoen pd th 1904


Pasar Djohar dibangoen tahoen 1933.
Pasar hasil karyanya adalah pasar Jatingaleh (1930), pasas Johar (1933), Pasar Sentral (1936) di Semarang; dan, pasar Ilir di Palembang. Sedangkan museum Sonobudoyo di kompleks kraton Yogyakarta. Karsten juga pernah diserahi tanggungjawab untuk perluasan dan modifikasi kraton Mangukunegoro ke VII di Surakarta (1917-20).
Gedung Zuztermaatschapijen sudah lebih adaptif dengan arsitektur lokal, yaitu arsitektur joglo. Untuk menyelesaikan masalah sirkulasi udara Karsten banyak membuat bukaan (pintu , jendela maupun lubang ventilasi) yang lebarnya sama dengan jarak antar trave-nya Pembukan ini dipadu dengan tinggi plafon yang sangat tinggi (5.44 M untuk ruang-ruang di pinggir, dan l0.44 pada ruang-ruang di tengah).
Perbedaan ketinggian ini sekaligus dimanfaatkan untuk pencahayaan. Untuk jenis bangunan pasar, tiga buah pasar yang ada di Semarang mempunyai keminpan arsitektur antara satu dengan lainnya, sedangkan sebuah lagi di Palembang berbeda.
Pasar Johar merupakan pasar termodern dan terbesar di Indonesia pada waktu itu, letaknya tepat disamping alun-alun Semarang yang merupakan pusat kota pada saat itu (sekarang alun-alun ini sudah tidak ada lagi). Dari segi struktur dikatakan modern karena strukur yang diterapkan di pasar Johar ini adalah terbaru di Indonesia, bahkan di dunia.
Struktur tersebut adalah struktur jamur (mushroom). Arsitek kaliber dunia Frank Lloyd Wright memakai struktur ini untuk karyanya - Johnson Waz Building di Wisconsin (1936). Bedanya, jika Karsten memakai penampang kolom maupun bagian atasnya berbentuk segi delapan maka Frank L.Wright memakai penampang bentuk lingkaran.
Pada masa itu, Karsten berhadapan dengan masalah sdm, terutama skill para ahli teknik. Karsten menginginkan peningkatan dalam pendidikan ahli telnik. Atas inisiatif suatu komite teknik, Karsten mengambil bagian dalam kuliah perencaan kota di ITB Bandung. Akan tetapi karena invasi Jepang Karsten hanya bertugas sebagai profesor selama enam bulan saja. Pada saat Jepang masuk Indonesia tahun 1945, Karsten meninggal dalam interniran Jepang di Cimahi(ET).
Sumber: http://www.mintakat.unmer.ac.id/edisi/1/1_4.html , Suara Merdeka

Design Lawangsewoe diboeat tahoen 1901.


Lawangsewoe dibangoen tahoen 1904


Pasar Djohar dibangoen tahoen 1933.


SEDJARAH TUGU MUDA SEMARANG


oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 14 Maret 2010 jam 12:38




Akan tidak lengkap kiranja dalam toelisan ini bila tidak menjeboetkan tentang Toegoe sebagai peringatan atas tekad dan kerpewiraan rakjat teroetama pemoeda2nja.

Bertempat di tengah2 Aloon2 Semarang dibangoen seboeah Toegoe dengan nama "TOEGOE MOEDA" jang batoe pertamanja diletakkan oleh Mr. Wongsonegoro, Goebernuur Djawa Tengah, pada tanggal 28 Oktober 1945.

Toegoenja sederhana, tetapi bagi mereka jang mengalami dan mendjadi saksi di hari2 itoe tentoenja tidak akan moedah meloepakannja.

Rakjat Semarang akan tetap ingat kepada pemandangan Toegoe Moeda dengan Pendjaganja jang bersendjatakan karaben bertopi badja, menghadap ke arah Hotel Du Pavilion (d/h Hotel Dibja Poeri), pertahanan Inggris; senapan mesinnja di taroeh di tanah berbentengkan karoeng pasir menghadap ke arah Toegoe Moeda jang berdjarak antara 50 meter. Esoknja ketika Semarang terpaksa haroes ditinggalkan, Toegoe Moeda itoe dibongkar oleh Belanda.

Masa2 ketenangan roepanja masih djaoeh dari oedara kota kita : memang rakjat dan pemoeda jang baroe sadja lepas dari alam pertempoeran telah tidak mersa tenang dan mengenal lelah. Mereka selaloe siap, awas dan waspada melihat kedatangan tentara2 Inggris, Gurkha dan Rapwi (Rehabilitation of Allied Prisoned of War ang Interniers) jang makin hari makin bertambah djoemlahnja, dan akan mendarat di Semarang moelai berachirnja Pertempoeran 5 hari pada tanggal 20 Oktober 1945.


MONUMENT PERTEMPOERAN 5 HARI.

Sebagai monbument atas djasa Angkatan Moeda dalam pertempoeran 5 hari di Semarang, maka oleh para ex. Panitia Toegoe Moeda dan taman Pahlawan, dengan dipelopori oleh sebagian besar ex. Angkatan Moeda antara lain : Martadi, Soeroso, A. Djaja, Soewarno, Tjipto, Salim dan letnan Kolonel Soediarto, maka di dalam tahoen 1950 timboellah initiatief oentoek mendirikan Toegoe Moeda, sebagai peringatan atas djasa Angkatan Moeda dalam pertempoeran 5 hari.

Locatie sebeloem didirikan Toegoe Moeda 1

Wilhelminaplein, 1911

Locatie sebeloem didirikan Toegoe Moeda 2



Achirnja Panitia terseboet jang djoega telah mengalami perobahan2 dan terachir diketoeai oleh Bapak Hadisoebeno Sosrowerdojo, Walikota Semarang, pada boelan Mei 1952 pembikinan Toegoe Moeda terseboet moelai dikerdjakan di tengah2 djalan simpang lima (Wilhelminaplein), di depan staf kwrtier Divisi Diponegoro, Bodjong (sekarang musuem Mandla Bhakti).

Peletakan batoe pertama dilakoekan oleh Goebernoer Boediono jang disaksikan djoega oleh J. M. Menteri P. P. & K, Mr. Wongsonegoro. Adapoen beajanja jang semoela direntjanakan hanja memakan Rp. 30.000,- achirnja berhoeboeng dengan kenaikan2 harga bahan dan lain2, maka Toegoe Moeda terseboet memakan beaja hingga sebesar Rp. 200.000,- oeang mana di dapat dari para dermawan kota ini.

Tepat pada hari Kebangkitan Nasional Indonesia tanggal 20 Mei 1953 djam 09.25 Toegoe Moeda terseboet diboeka setjara resmi oleh P.J.M. Presiden Soekarno.


KETERANGAN RELIEF PADA TOEGOE MOEDA

Toegoe Moeda berbentoek "Lilin" mempoenjai maksoed sebagai kenang2an jang tak koendjoeng padam bagi perdjoeangan Angkatan Moeda beserta Rakjat Semarang, dalam djasanja mempertahankan woedjoed dari pada Proklamasi 17 Agustus 1945 jang dipersembahkan kepada Iboe Pertiwi sedjak babak pertama dalam pertempoeran 5 hari jang terkenal itoe.

Sangga Lima jang meroepakan pilar2nja Toegoe Moeda, selain oentoek selaloe mengenangkan pengorbanan2 pertempoeran 5 hari dari Angkatan Moeda Semarang, djoega ditafsirkan adanja Dasar Pantjasila negara kita.

Pada tiap2 Sangga dipahatlah patoeng2 oleh beberapa ahli pahat patoeng.

1. Relief "Hongerodeem" dipahat oleh Bapak Eddy Soenarso, menggambarkan kehidoepan rakjat jang tertindas akibat pendjadjahan Belanda dan Djepang sehingga banjak jang menderita kelaparan akibatnja terdjadi boesoeng lapar (hongerodeem).

2. Relief "PERTEMPOERAN" dipahat oleh Bapak Joeski dari Atjeh, menggambarkan betapa sengitnja dan menggeloranja semangat serta keberanian Angkatan Moeda Semarang waktoe melakoekan pertempoeran selama 5 hari di kota ini oentoek kepentingan kedaoelatan bangsa dan negara.

3. Relief "PENJERANGAN" dipahat oleh Bapak Bakri dari Atjeh, mempoenjai arti perlawanan rakjat Indonesia terhadap fihak penindas oentoek kebebasan rakjat Indonesia dari belenggoe pendjadjahan.

4. Relief "KORBAN", dipahat oleh Bapak Nasir Bondan dari Banten, menggambarkan banjaknja rakjat jang mendjasi korban akibat terdjadinja pertempoeran 5 hari di Semarang.

5. Relief "KEMENANGAN", dipahat oleh Bapak Djony Trisno dari Salatiga, menggambarkan hasil dari djerih pajah dan pengorbanan jang membasahi boemi Kota Besar Semarang.

6. Relief-relief lain oleh Bapak Roetamadji, termasoek relieh Sila2 dalam Pantjasila.

Ontwerp Toegoe Moeda dibikin oleh Bapak Salim dan Bapak Hendro. Materi bangoenan dari batoe-batoe jang berasal dari Kalioerang, Pakem dan sekitarnja.

Tahun 2014 : 100 tahun Koloniale Tentoonsteling, mampukah kita selenggarakan lagi?


oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 14 Maret 2010 jam 22:09



Hanya Semarang satoe2nja kota di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara jang pernah menjelenggarakan pameran besar setaraf World Expo. Semarang, Dutch East Indies - Koloniale Tentoonstelling (1914)
Betapa tidak, perayaan itu menjadi sebuah perhelatan terbesar yang pernah diselenggarakan di Indonesia dan bahkan termasuk sebagai 1 dari 10 expo dunia (world Fair) terbesar yang diselenggarakan di antara tahun 1910-1920. Dan hingga saat ini, tidak ada kota lain di Indonesia yang pernah disebut sebagai salah satu penyelenggara World Expo terbesar di dunia, Jakarta sekalipun, dan keterlibatan warga Semarang justru lebih menonjol dari pada penguasa asing (baca: Belanda pada saat itu), setidaknya pembiayaan perayaan ini diponsori sebagian besarnya oleh Oei Tiong Ham, juragan gula tersohor saat itu dari Semarang. Begitupun, perayaan ini juga melejitkan nama seorang arsitek local bernama Admodirono (saat ini menjadi nama jalan di salah satu areal pasar malam ini pada saat itu), yang merancang sebagian besar pavilion-pavilun peserta expo. Ya Expo ini sangat besar, meliputi areal seluas 28 hektar di kawasan Gergaji, jalan Pahlawan , Pleburan hingga Siranda. Dibalik itu semua, diantara samar-samarnya nama kota ini di persejarahan nasional negeri ini, Semarang pernah menjadi kota terpenting di Nusantara, yang tentu saja hanya tercatat dalam buku sejarah kotanya sendiri. Sebuah kota yang pertama kali melahirkan partai Sosialis dan Partai buruh, dan arus pemikiran Sosialis dalam ranah Organisasi Islam, yang diimplementasikan dalam SI Merah. Sebuah kota yang pertama kali memiliki jalur kereta api di Jawa, Pabrik-pabrik dan perkebunan tebu, cengkeh, teh, kopi, tembakau, karet dan Jati. Sebuah kota yang pertama kali memiliki lapangan golf, sebuah kota tropis yang pertama kali mendapatkan sentuhan penataan modern dengan penataan kawasan kota bawah dan kota atas oleh Thomas Karsten, dan sebuah kota yang pernah memiliki pasar termegah di Asia Tenggara, yaitu pasar Johar. Selain itu sekalipun bukan merupakan kota seni budaya, Semarang juga turut melahirkan seniman besar di tanah air sekelas Raden Saleh Sjarif Bustaman, dan Ki Narto Sabdho hingga Daniel Sahuleka. Semarang memang kontroversial. Sebuah kota besar yang tak pernah masuk dalam sejarah negerinya, namun lebih suka menulis sejarahnya sendiri. Tapi akankah Semarang terus menerus hanya mencatatkan sejarah kotanya sendiri? Sudah saatnya Semarang masuk dalam catatan sejarah negeri ini..
Tahun 2014 adalah tepat 100 tahun penyelenggaraan Koloniale Tentoonsteling. Adalah momen yang tepat untuk membuktikan bahwa setelah 100 tahun berlalu Semarang tetap merupakan kota terpenting di kawasan Nusantara dan Asia. Sebuah World Expo perlu kembali diselenggarakan di Semarang, untuk memperingati semangat baru kelahiran kembali kota Semarang tercinta.

Source : http://sentiling2014.multiply.com/journal

Lie Eng Hok, Perintis Kemerdekaan Bermata Sipit

oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 04 April 2010 jam 12:35



Di prasasti batoe besar di Taman Makam Pahlawan Giri Toenggal Semarang terpahat seboeah nama Lie Eng Hok. Terpatri pada nomor oeroet 629 dari deretan riboeuan pahlawan jang dimakamkan di tempat ini.

Seorang beretnis Tionghoa dikoeboer di Taman Makam Pahlawan? Moengkin memang djarang terdjadi. Namoen ternjata di Taman Makam Pahlawan terseboet djoega ditemoekan Koo Siang alias Djoeani. Kondisi makam Lie Eng Hok sama dengan nisan-nisan lainnja. Terboeat dari traso, sementara diatas poesaranya tergeletak topi badja.

Di batoe nisan itu terpahat toelisan warna merah jang memperdjelas hoeroef2 Lie Eng Hok. Perintis Kemerdekaan RI, Lahir : 17-2-1893, Wafat : 27-12-1961.

Kisah hidoep Lie soenggoeuh menarik. Dalam boekoeberdjoedoel Peranakan Idealis, Dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya toelisan H Junus Yahya dinjatakan bahwa Lie terlibat dalam peristiwa Pemberontakan 1926 di Banten.
Dia ditoedoeh sebagai otak jang menggerakkan massa melakoekan peroesakan djalan, djembatan, rel kereta api serta roemah dan kantor milik orang Belanda.
Ini meroepakan bentoek protes dan perlawanan terhadap pemerintah Belanda jang menindas rakjat. Terlebih lagi dikatakan tak semoea orang jang memimpin pergerakan itoe berideologi komunis. Banjak diantaranja menganoet paham nasionalis.

Ditoedoeh menggerakkan massa oentoek memberontak akhirnja memboeat Lie mendjadi boeronan. Dia di-kedjar2 pemerintah Belanda.

Lie Eng Hok kemowdian melarikan diri ke Semarang. Oentoek menjamarkan djati dirinja, dia memboeka oesaha djoeal beli boekoe bekas di sekitar Pasar Djohar. Dari aktivitas bisnisnja terseboet ternjata memboeat dia sering bertemoe dengan orang-orang Belanda.

Tanpa diduga Lie jang semasa moedanja aktif sebagai wartawan Sin Po itoe mendapatkan info-info jang terkait dengan soal2 politik. Informasi penting itoe kemudian disampaikan kepada kawan2 pergerakan.

Lie jang dikabarkan dekat dengan W.R. Supratman seringkali menjelipkan info berharga ke dalam boekoe loakan laloe menjerahkan pada rekannja.

Pria kelahiran Desa Balaraja, Tangerang itoe djoega sering mentjarikan penginapan bagi tokoh2 pergerakan djika ada rapat di Semarang.

Ketika aksi Lie teroengkap. Dia tertangkap basah saat menjerahkan boekoe jang disisipi informasi pada rekannja. Lie Eng Hok kemoedian didjatoehi gandjaran hoekoeman pengasingan di Boven Digoel.

Di masa pengasingannja itoe dia mentjari penghasilan tambahan dengan bekerdja sebagai toekang tambal sepatoe bersama U Pardedeh, bekas Hoofd Redacteur Soeara Kita Pematang Siantar. Lie Eng Hok mendekam di poesat pengasingan tahanan politik pemerintah kolonial Belanda sepandjang lima tahoen, antara 1927 – 1932.

Setelah bebas dia kembali ke Semarang oentoek berbisnis boekoe loakan lagi. Tanggal 27 Desember 1961 Lie Eng Hok meninggal doenia dan dimakamkan di kompleks pekuburan Tionghoa Kedoengmoendoe.

Pada masa pemerintahan Soekarno, dia dinjataken sebagai perintis kemerdekaan RI berdasarkan SK Menteri Sosial RI No. Pol 111 PK tertanggal 22 Januari 1959. Atas anoegerah itu Lie berhak mendapatkan toenjangan oeang sebesar Rp. 400 per boelan.

Pada tahoen 1986 kerangka Lie Eng Hok dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal setelah disahkannja SK Pangdam IV/Diponegoro No B/678/X/1986.



Itoelah sepenggal kisah dari Lie Eng Hok. Seorang peranakan Tionghoa jang telah terboekti memiliki djiwa nasionalis jang tinggi. Dia bahkan berani mengambil resiko besar demi membantoe pergerakan dalam memperdjoeangkan kemerdekaan. (Thomas Joko).
Maaf, sebagai warga priboemi, kita sekarang ini haroesnja memiliki rasa nasionalisme jang lebih tinggi daripada beliaoe.

Source : http://forum.detik.com/showthread.php?t=50073