Tampilkan postingan dengan label Legenda Semarang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Legenda Semarang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 April 2011

Sedjarah "Dhoegdheran Semarang":

oleh Welcome To Semarang, Indonesia
pada 05 Februari 2010 jam 20:55



Oemat Islam Semarang soedah ta' asing lagi dengan dhoegdheran. Meskipoen zaman soedah beroebah, tetep sadja traditie ini mangsih tetep bertahan. Kalaoe poen dibandingken dengan Pasar Semawis atawa PRPP jang diselenggaraken beberapa tahon jang laloe, djelas dhoegdheran mangsih melekat koeat di hati masjarakat walaoe tak dipoengkiri oemoer dhegdheran soedah mentjapai satoe abad lebih.

Sedjak kapan dhoegdheran itoe berlangsoeung? Menoeroet sedjarah dhoegdheran pertama kali digelar tahoen 1881 oleh Boepati Semarang Raden Mas Toemenggoeng Arjo Poerboningrat. Boepati satoe ini dikenal kreatif dan memiliki djiwa seni tinggi sehingga menggagas satoe atjara oentoek memberi sematjam pertanda awal waktoe poeasa lantaran oemat Islam pada masa itoe belon memiliki keseragaman oentoek berpoeasa. Sang boepati memilih soeatoe pesta dalam bentoek traditie goena menengahi terdjadinja perbedaan dalam memoelai djatoehnja awal poeasa.

oentoek menandai dimoelainja boelan Ramadhan itoe, maka diadaken oepatjara memboenjiken soeara bedoeg (Dhoeg..dhoeg..dhoeg) sebagai poentjak "awal boelan poeasa" sebanjak 17 (toejoeh belas) kali dan diikoeti dengan soeara dentoeman meriam (dher..dher..dher...) sebanjak 7 kali. Dari perpadoean antara boenji dhoeg dan dher itoelah jang kemoedian mendjadiken traditie atawa kesenian jang digagas oleh Boepati Raden Mas Toemenggoeng Arjo Poerboningrat itoe diberi nama "dhoegdheran".



Selain boenji bedhug dan meriam itoe, di dalam pesta rakjat dhoegdheran ada djoega mascot dhoegdheran jang dikenal dengan istilah “Warak Ngendhog”. Warak Ngendhog ini adalah seboeah mainan djenis binatang rekaan jang bertoeboeh kambing dan berkepala naga dengan koelit seperti bersisik diboeat dari kertas berwarna-warni jang terboeat dari kayoe djoega dilengkapi beberapa teloer reboes sebagaoeu diselenggaraken dhoegdheran kali pertama itoe, Semarang sedang krisis pangan dan telor meroepakan makanan mewah.

Pesan di Balik Dhoegdheran.
Meski duhoegdheran soeudah mendjadi sematjam pesta rakjat dan soedah mendjadi traditie jang tjoekoep koeat dengan adanja perlombaan, karnaval, dan tarian, tetep sadja dhoegdheran ta' lepas dari poentjak ritoealnja beroepa taboeh bedhoeg dan halaqah jang mendjadi akhir dari traditie jang soedah bertahan seabad lebih itoe. Karena itoelah, poentjak ritoeal ini boekan semata-mata sekedar sebagai traditie (kesenian rakjat), tapi salah satoe boedaja Islam Semarang jang poenja pesan.

Pertama, salah satoe pesan jang coekoep koeat digelarnja traditie(atawa boedaja) dhoegdheran ini adalah pengoemoenan dimoelainja boelan soetji Ramadhan. Pengoemoenan itoe dilambangken dengan ditaboehnja bedhoeg jang mendjadi satoe “tetenger”. Djoega, pemoekoelan bedhoeg itoe djadi konsensus jang menegoehken atawa memberiken 'justification' ketetapan djatoehnja tanggal 1 boelan Ramadhan pada esok hari, apalagi oemat Islam --tidak hanja di Semarang-- kerapkali memiliki perbedaan dalam mendjalankan ibadah poeasa di boeulan soetjii Ramadhan.

Selain itooeuasa. Bentuk pendidikan itu dilambangkan dengan adanya warak ngendok yang dapat diartikan suatu lambang jang sarat dengan makna. Karena arti keseloeroehan warak ngendhog itoe adalah seseorang haroeslah soeutji, bersih dan memantapken ketaqwaan kepada Allah dalam mendjalani poeasa. Karena itoelah, ini bisa mendjadi pembeladjaran bagi anak dalam mengenal ibadah poeasa! (source: n. mursidi)

Sedjarah Perkeretapian di Semarang

oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 11 Februari 2010 jam 16:51


STASIUN SAMARANG NIS 1 tampak dari
loear tanggal 10 agoestoes 1867


Stasiun pertama NIS di Semarang berada di Tambaksasi (Kemidjen), bernama Stasiun SAMARANG NIS di dekat Pelaboehan Semarang. Stasiun Tambaksari ini adalah stasiun oedjoeng, ataoe dalam bahasa Belanda diseboet kopstation. Tahoen 1914 stasiun Tambaksari dibongkar oentoek memoengkinkan pembangoenan djalan rel ke stasiun NIS jang baroe di Tawang. Sebagian bangoenan stasiun Tambaksari masih dipakai oentoek goedang, sehingga kemoedian dikenal sebagai stasiun Semarang Goedang.
Tampak Stasiun Samarang NIS I berbentoek hoeroef "U"

Dengan soesah pajah pada 10 Februari 1870 selesailah djalur sampai ke Solo, setahoen kemoedian pembangoenan djalan rel telah sampai ke Jocjakarta. Akhirnja, pada 21 Mei 1873 djaloer Semarang-Soerakarta-Jocjakarta, termasoek tjabang Kedoengdjati-Willem I (Ambarawa) diresmiken pemakainnyja. Pada tahoen itoe selesai pula aloer Batavia-Butenzorg. Melihat besarnja kesoelitan jang dihadapi NIS, tidak ada investor jang tertarik oentoek membangoen djalan kereta api. Terpaksa pemerintah terjoen langsoeng. Pemerintah mendiriken peroesahaan Staat Spoorwagen (SS). Djaloer rel pertama jang di bangoen oleh SS adalah antara Soerabaia-Pasoeroean sepandjang 115 kilometer jang diresmiken pada 16 Mei 1878.

Setelah NIS maoepoen SS kemoedian terboekti mampoe meraih laba, bermoentjoelan belasan peroesahaan2 kereta api swasta besar maoepoen ketjil. Oemoemnja mereka membangoen djalan rel ringan ataoe tramwagen jang biaja pembangoenannnja lebih moerah. Tramwagen biasanja di bangoen di sisi djalan raja. Dan karena konstruksinja jang ringan, ketjepatan kereta api tidak bisa lebih dari 35 kilometer per djam.

Di antara peroesahaan2 terseboet jang mempoenjai djaringan terpandjang adalah Semarang Joana Stoomtram Maatschappj (SJS) sepanjang 417 kilometer dan Semarang Tjheribon Stoomtram Maatschappj (SCS) sepandjang 373 kilometer. jang terpendek adalah Poerwodadi-Goendih Stoomtram Maatschappj (PGSM) jang hanja mempoenjai djaringan sepandjang 17 kilometer

Lokomotif Pertama
Stasiun Pertama – Prototipe Stasiun Tanggoeng

Meskipoen djaloer Semarang-Tanggoeng, baroe diresmiken pada 10 Agustus 1867, tahoen 1863 NIS telah memesan doea boeah locomotif dari pabrik Borsig di Berlin, Djerman. Kedoea locomotif itoe dirantjang oentoek nantinja melajani djaloer antara Kedoengdjati dan Wilem I (Ambarawa) jang di beberapa tempat mempoenjai kemiringan sampai 2,8 persen. Ketika itoe locomotif boeatan Borsig banjak dipakai oleh peroesahaan2 kereta api di Belanda.

Stasiun Tanggoeng telah mengalami peroebahan bentoek

Setahoen kemoedian doea locomotif dikirim ke Semarang, tapi baroe pada 22 Juni 1865 moelai dioperasikan, masing-masing dengan nomor seri NIS 1 dan NIS 2. karena djaloer kereta api pada saat itoe baroe dalam tahap pembangoenan, NIS 1 dan NIS 2 dimanfaatkan oentoek mempertjepat pemasangan rel, sekaligoes oentoek melatih petoegas jang akan mengoperasikan dan memelihara locomotif2 terseboet. Sementara itoe kedatangan locomotif oeap terseboet disamboet masjarakat dengan rasa kagum tapi sekaligus tajut. Seperti dikatakan Liem Thian Joe dalam buku ’Riwayat Semarang’ (1933), ”Publiek Priboemi dan Tionghoa pertjaja, itoe kepala spoor didjalanken dengan kekoeatan ........ setan”.

Stasiun Kedoengdjati – Kondisi saat awal pembangoenan


Pada akhir 1866 empat locomotif boeatan Beyer Peacock, Manchester, Inggris itoe tiba di Semarang dan diberi nomor seri NIS 3-6. selain nomor seri keempat locomotif itoe mendapatkan nama, masing-masing ’JP de Bordes’ (nama seorang pedjabat NIS), ’Merapi’, ’Merbaboe’ dan ’Lawoe’. Nama-nama terseboet pada satoe sisi ditoelis dalam aksara latin, pada sisi lain dalam aksara Djawa. Namoen penggoenaan keempat locomotif setjara resmi baroe pada 10 Agustus 1867, bersamaan dengan pembukaan djaloer Semarang-Tanggoeng.

Sampai invasi Jepang ke Indonesia tahoen 1942-1945, rel-rel NIS / SS banyak dibongkar, teroetama gauge 1.435 milimeter, dipindah bangoen ke Soematera – dibangoen rel dari Soematera Barat ke Riaoe – djaloer rel soedah selesai dibangoen namoen Djepang soedah kalah Perang Doenia II, sehingga rel itoe beloem pernah sempat terpakai.

Pasca Kemerdekaan RI
Setelah Djepang pergi dari Boemi Pertiwi ini, Pemerintah RI jang baroe mengakuisisi SS jang berkantor poesat di Bandoeng mendjadi kantor kereta api milik negara RI. Dimoelai dari tahoen 1950 SS diganti Direktorat Djenderal Kereta Api (DDKA), tahoen 1950-1963 mandjadi Djawatan Kereta Api DKA, tahoen 1963-1971 menjadi Perusahaan Negara Kereta Api (PNKA), tahoen 1971-1990 mendjadi Peroesahaan Djawatan Kereta Api (PJKA), tahoen 1990-1999 mendjadi Peroesahaan Umum Kereta Api (Perumka) dan tahoen 1999 sampai sekarang ini menjadi BUMN PT Kereta Api (Persero). (Source : Ir. Hartono AS, MM, 2004).


Stasiun Toentang 1910, masih rel gauge 1435 mm


Stasiun Toentang pasca DKA, dengan rel gauge 1067 mm

Herman Thomas Karsten (1885-1945), Arsitek Lawangsewoe dan Pasar Djohar Semarang.

oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 18 Februari 2010 jam 15:25
Herman Thomas Karsten adalah arsitek lulusan Technische Hoogeschool di Delft yang masuk tahun l904. Karsten dilahirkan pada tahun 1884 di Amsterdam dari keluarga terpelajar. Ayahnya seorang profesor dalam ilmu filsafat dan wakil ketua Chancellor (Pembantu Rektor/Direktur) di Universitas Amsterdam sedang ibunya berasal dari Jawa Tengah. Semasa mahasiswa, sejak tahun pertama, Karsten muda aktif di perkumpulan mahasiswa sosial demokratis (STY = Social- Technische Vereenaging van Democratische Ingenieur en Architecten), yaitu suatu kelompok mahasiswa teknik arsitekur berhaluan demokrasi. Arsitek Herman Thomas karsten membeli biro arsitek milik Henri Maclaine Pont pada tahun 1915, kakak tingkatnya yang dua tahun lebih tua darinya.Tahun 1908 Karsten menjadi anggota pengurus bagian perumahan dari organisasi yang memegang peranan penting dalam masalah perumahan dan perencanaan kota. Padahal pada masa itu pada jurusan Arsitektur di Delft, kurang memperhatikan masalah perumahan maupun perencanaan kota.
Thomas dan Soembinah Karsten bersama tiga dari empat anak mereka.

Tahun 1913, pengalaman Karsten diperoleh dengan diadakannya Kongres Perumahan Internasional di Schevenigen Belanda yang secara khusus membahas permasalahan kenyamanan perumahan di Indonesia yang buruk, terutama pada sistem sirkulasi udara dan peneraangan alaminya, dengan mengetengahkan kondisi kampung-kampung di Semarang. Pengalaman selanjutnya, kunjungan ke Berlin; dimana Berlin adalah sebuah kota yang sangat maju dalam perencanaan kota dan perumahan. Bidang yang menjadi ajang kiprahnya di Indonesia sama dengan bidang yang menjadi latar belakangnya, yaitu bangunan dan perencanaan kota. Beberapa tahun sebelum Karsten datang ke Indonesia, sudah ada aktivitas~aktivitas lokal dalam perencanaan kota.
Beberapa peristiwa yang dianggap dapat dipakai sebagai tonggak perkembangan perencanaan kota modern di Indonesia, adalah modern di Indonesia, adalah:
Revolusi Industri di Eropa. Hal ini secara tidak langsung memberikan dua pengaruh penting. Pertama, peningkatan kebutuhan bahan mentah, menyebabkan timbulnya kota-kota adininistratur di Indonesia. Kedua, berkemhangnya konsep-konsep perencaan kota modern yang tercetus sebagai tanggapan atas revolusi industri Misalnya konsep “Garden City oleh Ebeneser Howard. Kesemuanya ini juga mempengaruhi Karsten dalam berkarya Indonesia .Politik kulturstelsel menyebabkan berkembangnya perkebunan tanaman keras, dan pula dianggap sebagal awal berkembangnya wilayah pertanian dan kota-kota administratur perkebunan Politik Etis (Etische Politiek). Politik mempunyai dampak bagi perkembangan perencanaan kota di Indonesia, dengan dikembangkannya perbaikan kampung kota (1934) Pengembangan Pranata dan Konstitusi Baru. Terbitnya UU Desentralisasi Decentralisatie Besluit Indisehe Staatblad tahun 1905/137, yang mendasari terbentuknya sistem kotapraja (Staadgemeente) yang bersifat otonom. Hal ini memacu perkembangan konsepsi perencanaan kota kolonial modern, khususnya Garden City atau Tuinstad”. Pada pelaksanaan poin 4 (empat) yaitu politik dosentralisasi yang memberikan otoritas kepada daerah dalam pengembangannya, kota-kota mulai berkembang pesat, salah satu penyebabnya adalah tumbuh dan berkembangnya perkebunan dan industrialisasi. Akibatnya, penduduk terlalu padat, keadaan kota semakin buruk, terutama dalam hal sanitasi dan pengadaan air minum. Dalam situasi seperti ini Karsten diangkat manjadi penasihal otoritas 1okal untuk perencanaan kota Semarang, bekerja sama dengan jawatan pekerjaan umum Selain dari pada itu Karsten manjadi bagian dalam kelompok orang-orang Belanda pendukung kemerdekaan untuk Indonesia Karsten sangat memperhatikan kebudayaan penduduk asli, terutama pada arsitektur dan tata ruang Kota Sebagai penasehat, Karsten menyusun suatu paket lengkap untuk perencanaan berbagai kota, dimana didalamnya terdiri dan perencanaan kota (town planning), rencana detail (detail plan) dan peraturan bangunan (building regulation). Di Jawa Karsten merencanakan sembilan dari sembilan belas kota-kota yang mendapat otoritas lokal. Kesembilan kota tersebut adalah Semarang, Bandung, Batavia (Jakarta), Magelang, Malang, Buitenzorg (Bogor), Madiun Cirebon, Meester (Jatinegara), Yogya, Surakarta, dan Purwokerto.

Dalam kiprahnya di Semarang, Karsten menerapkan prinsip perencanaan kola, penzoningan, tingkatan/hirarki jalan-jalan seperti di Eropa. Perencanaannya juga mengacu perencanam pemerintah kota sebelum Karsten datang. Pengaruh Karsten dalam pengembangan kota adalah dengan adanya pembagian lingkungan yang tidak lagi berdasarkan suku, tetapi kelas ekonorni, yaitu tinggi, menengah dan rendah. Dalam perencanaan daerah Candi, Semarang, pengaruh gaya Eropa cukup dorninan terutama konsep “garden city”. Hal ini terlihat dengan adanya taman umum dan halaman pada setiap rumah. Untuk perletakan rumah, taman umum dan ruang terbuka, Karsten sejauh mungkin mengikuti keadaan topografi, kemiringan-kemiringan dan belokan-belokan yang ada. Pembagian tanah dan arah jalan yang hanya terdiri dan dua kategori (utama dan sekunder), selain mengikuti keadaan tanah juga dibuat sedemikian rupa sehingga rumah-rumah dan taman-taman umum dapat memiliki pemandangan indah ke laut sebelah utara.
Bagaimana halnya dengan kiprah Karsten di dalam perercanaan dan perancangan bangunan?. Beberapa bangunan yang telah mewarnai arsitetur kota, khususnya kota Semarang adalah gedung SMN (Stoomvart Nederland), sebuah perusahaan pelayaran kolonial, yang dibangun di kawaaan pusat kota - waktu itu den - tahun 1930.
Gambar (design) Lawangsewoe diboeat tahoen 1901 oleh Herman Thomas Karsten
Gedung kantor perusahaan kereta api (dahulu benama Zuztermaatschapijen, kemudian, Joana Stroorntraam-Maatchappiej) di jalan MH Thamrin Semarang juga hasil rancangannya. Selain bangunan kantor Karsten juga dalam kerja samanya dengan pernerintah kota, membangun banyak pasar dan museum.
Lawangsewoe dibangoen pd th 1904


Pasar Djohar dibangoen tahoen 1933.
Pasar hasil karyanya adalah pasar Jatingaleh (1930), pasas Johar (1933), Pasar Sentral (1936) di Semarang; dan, pasar Ilir di Palembang. Sedangkan museum Sonobudoyo di kompleks kraton Yogyakarta. Karsten juga pernah diserahi tanggungjawab untuk perluasan dan modifikasi kraton Mangukunegoro ke VII di Surakarta (1917-20).
Gedung Zuztermaatschapijen sudah lebih adaptif dengan arsitektur lokal, yaitu arsitektur joglo. Untuk menyelesaikan masalah sirkulasi udara Karsten banyak membuat bukaan (pintu , jendela maupun lubang ventilasi) yang lebarnya sama dengan jarak antar trave-nya Pembukan ini dipadu dengan tinggi plafon yang sangat tinggi (5.44 M untuk ruang-ruang di pinggir, dan l0.44 pada ruang-ruang di tengah).
Perbedaan ketinggian ini sekaligus dimanfaatkan untuk pencahayaan. Untuk jenis bangunan pasar, tiga buah pasar yang ada di Semarang mempunyai keminpan arsitektur antara satu dengan lainnya, sedangkan sebuah lagi di Palembang berbeda.
Pasar Johar merupakan pasar termodern dan terbesar di Indonesia pada waktu itu, letaknya tepat disamping alun-alun Semarang yang merupakan pusat kota pada saat itu (sekarang alun-alun ini sudah tidak ada lagi). Dari segi struktur dikatakan modern karena strukur yang diterapkan di pasar Johar ini adalah terbaru di Indonesia, bahkan di dunia.
Struktur tersebut adalah struktur jamur (mushroom). Arsitek kaliber dunia Frank Lloyd Wright memakai struktur ini untuk karyanya - Johnson Waz Building di Wisconsin (1936). Bedanya, jika Karsten memakai penampang kolom maupun bagian atasnya berbentuk segi delapan maka Frank L.Wright memakai penampang bentuk lingkaran.
Pada masa itu, Karsten berhadapan dengan masalah sdm, terutama skill para ahli teknik. Karsten menginginkan peningkatan dalam pendidikan ahli telnik. Atas inisiatif suatu komite teknik, Karsten mengambil bagian dalam kuliah perencaan kota di ITB Bandung. Akan tetapi karena invasi Jepang Karsten hanya bertugas sebagai profesor selama enam bulan saja. Pada saat Jepang masuk Indonesia tahun 1945, Karsten meninggal dalam interniran Jepang di Cimahi(ET).
Sumber: http://www.mintakat.unmer.ac.id/edisi/1/1_4.html , Suara Merdeka

Design Lawangsewoe diboeat tahoen 1901.


Lawangsewoe dibangoen tahoen 1904


Pasar Djohar dibangoen tahoen 1933.


SEDJARAH TUGU MUDA SEMARANG


oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 14 Maret 2010 jam 12:38




Akan tidak lengkap kiranja dalam toelisan ini bila tidak menjeboetkan tentang Toegoe sebagai peringatan atas tekad dan kerpewiraan rakjat teroetama pemoeda2nja.

Bertempat di tengah2 Aloon2 Semarang dibangoen seboeah Toegoe dengan nama "TOEGOE MOEDA" jang batoe pertamanja diletakkan oleh Mr. Wongsonegoro, Goebernuur Djawa Tengah, pada tanggal 28 Oktober 1945.

Toegoenja sederhana, tetapi bagi mereka jang mengalami dan mendjadi saksi di hari2 itoe tentoenja tidak akan moedah meloepakannja.

Rakjat Semarang akan tetap ingat kepada pemandangan Toegoe Moeda dengan Pendjaganja jang bersendjatakan karaben bertopi badja, menghadap ke arah Hotel Du Pavilion (d/h Hotel Dibja Poeri), pertahanan Inggris; senapan mesinnja di taroeh di tanah berbentengkan karoeng pasir menghadap ke arah Toegoe Moeda jang berdjarak antara 50 meter. Esoknja ketika Semarang terpaksa haroes ditinggalkan, Toegoe Moeda itoe dibongkar oleh Belanda.

Masa2 ketenangan roepanja masih djaoeh dari oedara kota kita : memang rakjat dan pemoeda jang baroe sadja lepas dari alam pertempoeran telah tidak mersa tenang dan mengenal lelah. Mereka selaloe siap, awas dan waspada melihat kedatangan tentara2 Inggris, Gurkha dan Rapwi (Rehabilitation of Allied Prisoned of War ang Interniers) jang makin hari makin bertambah djoemlahnja, dan akan mendarat di Semarang moelai berachirnja Pertempoeran 5 hari pada tanggal 20 Oktober 1945.


MONUMENT PERTEMPOERAN 5 HARI.

Sebagai monbument atas djasa Angkatan Moeda dalam pertempoeran 5 hari di Semarang, maka oleh para ex. Panitia Toegoe Moeda dan taman Pahlawan, dengan dipelopori oleh sebagian besar ex. Angkatan Moeda antara lain : Martadi, Soeroso, A. Djaja, Soewarno, Tjipto, Salim dan letnan Kolonel Soediarto, maka di dalam tahoen 1950 timboellah initiatief oentoek mendirikan Toegoe Moeda, sebagai peringatan atas djasa Angkatan Moeda dalam pertempoeran 5 hari.

Locatie sebeloem didirikan Toegoe Moeda 1

Wilhelminaplein, 1911

Locatie sebeloem didirikan Toegoe Moeda 2



Achirnja Panitia terseboet jang djoega telah mengalami perobahan2 dan terachir diketoeai oleh Bapak Hadisoebeno Sosrowerdojo, Walikota Semarang, pada boelan Mei 1952 pembikinan Toegoe Moeda terseboet moelai dikerdjakan di tengah2 djalan simpang lima (Wilhelminaplein), di depan staf kwrtier Divisi Diponegoro, Bodjong (sekarang musuem Mandla Bhakti).

Peletakan batoe pertama dilakoekan oleh Goebernoer Boediono jang disaksikan djoega oleh J. M. Menteri P. P. & K, Mr. Wongsonegoro. Adapoen beajanja jang semoela direntjanakan hanja memakan Rp. 30.000,- achirnja berhoeboeng dengan kenaikan2 harga bahan dan lain2, maka Toegoe Moeda terseboet memakan beaja hingga sebesar Rp. 200.000,- oeang mana di dapat dari para dermawan kota ini.

Tepat pada hari Kebangkitan Nasional Indonesia tanggal 20 Mei 1953 djam 09.25 Toegoe Moeda terseboet diboeka setjara resmi oleh P.J.M. Presiden Soekarno.


KETERANGAN RELIEF PADA TOEGOE MOEDA

Toegoe Moeda berbentoek "Lilin" mempoenjai maksoed sebagai kenang2an jang tak koendjoeng padam bagi perdjoeangan Angkatan Moeda beserta Rakjat Semarang, dalam djasanja mempertahankan woedjoed dari pada Proklamasi 17 Agustus 1945 jang dipersembahkan kepada Iboe Pertiwi sedjak babak pertama dalam pertempoeran 5 hari jang terkenal itoe.

Sangga Lima jang meroepakan pilar2nja Toegoe Moeda, selain oentoek selaloe mengenangkan pengorbanan2 pertempoeran 5 hari dari Angkatan Moeda Semarang, djoega ditafsirkan adanja Dasar Pantjasila negara kita.

Pada tiap2 Sangga dipahatlah patoeng2 oleh beberapa ahli pahat patoeng.

1. Relief "Hongerodeem" dipahat oleh Bapak Eddy Soenarso, menggambarkan kehidoepan rakjat jang tertindas akibat pendjadjahan Belanda dan Djepang sehingga banjak jang menderita kelaparan akibatnja terdjadi boesoeng lapar (hongerodeem).

2. Relief "PERTEMPOERAN" dipahat oleh Bapak Joeski dari Atjeh, menggambarkan betapa sengitnja dan menggeloranja semangat serta keberanian Angkatan Moeda Semarang waktoe melakoekan pertempoeran selama 5 hari di kota ini oentoek kepentingan kedaoelatan bangsa dan negara.

3. Relief "PENJERANGAN" dipahat oleh Bapak Bakri dari Atjeh, mempoenjai arti perlawanan rakjat Indonesia terhadap fihak penindas oentoek kebebasan rakjat Indonesia dari belenggoe pendjadjahan.

4. Relief "KORBAN", dipahat oleh Bapak Nasir Bondan dari Banten, menggambarkan banjaknja rakjat jang mendjasi korban akibat terdjadinja pertempoeran 5 hari di Semarang.

5. Relief "KEMENANGAN", dipahat oleh Bapak Djony Trisno dari Salatiga, menggambarkan hasil dari djerih pajah dan pengorbanan jang membasahi boemi Kota Besar Semarang.

6. Relief-relief lain oleh Bapak Roetamadji, termasoek relieh Sila2 dalam Pantjasila.

Ontwerp Toegoe Moeda dibikin oleh Bapak Salim dan Bapak Hendro. Materi bangoenan dari batoe-batoe jang berasal dari Kalioerang, Pakem dan sekitarnja.

Tahun 2014 : 100 tahun Koloniale Tentoonsteling, mampukah kita selenggarakan lagi?


oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 14 Maret 2010 jam 22:09



Hanya Semarang satoe2nja kota di Indonesia dan bahkan Asia Tenggara jang pernah menjelenggarakan pameran besar setaraf World Expo. Semarang, Dutch East Indies - Koloniale Tentoonstelling (1914)
Betapa tidak, perayaan itu menjadi sebuah perhelatan terbesar yang pernah diselenggarakan di Indonesia dan bahkan termasuk sebagai 1 dari 10 expo dunia (world Fair) terbesar yang diselenggarakan di antara tahun 1910-1920. Dan hingga saat ini, tidak ada kota lain di Indonesia yang pernah disebut sebagai salah satu penyelenggara World Expo terbesar di dunia, Jakarta sekalipun, dan keterlibatan warga Semarang justru lebih menonjol dari pada penguasa asing (baca: Belanda pada saat itu), setidaknya pembiayaan perayaan ini diponsori sebagian besarnya oleh Oei Tiong Ham, juragan gula tersohor saat itu dari Semarang. Begitupun, perayaan ini juga melejitkan nama seorang arsitek local bernama Admodirono (saat ini menjadi nama jalan di salah satu areal pasar malam ini pada saat itu), yang merancang sebagian besar pavilion-pavilun peserta expo. Ya Expo ini sangat besar, meliputi areal seluas 28 hektar di kawasan Gergaji, jalan Pahlawan , Pleburan hingga Siranda. Dibalik itu semua, diantara samar-samarnya nama kota ini di persejarahan nasional negeri ini, Semarang pernah menjadi kota terpenting di Nusantara, yang tentu saja hanya tercatat dalam buku sejarah kotanya sendiri. Sebuah kota yang pertama kali melahirkan partai Sosialis dan Partai buruh, dan arus pemikiran Sosialis dalam ranah Organisasi Islam, yang diimplementasikan dalam SI Merah. Sebuah kota yang pertama kali memiliki jalur kereta api di Jawa, Pabrik-pabrik dan perkebunan tebu, cengkeh, teh, kopi, tembakau, karet dan Jati. Sebuah kota yang pertama kali memiliki lapangan golf, sebuah kota tropis yang pertama kali mendapatkan sentuhan penataan modern dengan penataan kawasan kota bawah dan kota atas oleh Thomas Karsten, dan sebuah kota yang pernah memiliki pasar termegah di Asia Tenggara, yaitu pasar Johar. Selain itu sekalipun bukan merupakan kota seni budaya, Semarang juga turut melahirkan seniman besar di tanah air sekelas Raden Saleh Sjarif Bustaman, dan Ki Narto Sabdho hingga Daniel Sahuleka. Semarang memang kontroversial. Sebuah kota besar yang tak pernah masuk dalam sejarah negerinya, namun lebih suka menulis sejarahnya sendiri. Tapi akankah Semarang terus menerus hanya mencatatkan sejarah kotanya sendiri? Sudah saatnya Semarang masuk dalam catatan sejarah negeri ini..
Tahun 2014 adalah tepat 100 tahun penyelenggaraan Koloniale Tentoonsteling. Adalah momen yang tepat untuk membuktikan bahwa setelah 100 tahun berlalu Semarang tetap merupakan kota terpenting di kawasan Nusantara dan Asia. Sebuah World Expo perlu kembali diselenggarakan di Semarang, untuk memperingati semangat baru kelahiran kembali kota Semarang tercinta.

Source : http://sentiling2014.multiply.com/journal

Lie Eng Hok, Perintis Kemerdekaan Bermata Sipit

oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 04 April 2010 jam 12:35



Di prasasti batoe besar di Taman Makam Pahlawan Giri Toenggal Semarang terpahat seboeah nama Lie Eng Hok. Terpatri pada nomor oeroet 629 dari deretan riboeuan pahlawan jang dimakamkan di tempat ini.

Seorang beretnis Tionghoa dikoeboer di Taman Makam Pahlawan? Moengkin memang djarang terdjadi. Namoen ternjata di Taman Makam Pahlawan terseboet djoega ditemoekan Koo Siang alias Djoeani. Kondisi makam Lie Eng Hok sama dengan nisan-nisan lainnja. Terboeat dari traso, sementara diatas poesaranya tergeletak topi badja.

Di batoe nisan itu terpahat toelisan warna merah jang memperdjelas hoeroef2 Lie Eng Hok. Perintis Kemerdekaan RI, Lahir : 17-2-1893, Wafat : 27-12-1961.

Kisah hidoep Lie soenggoeuh menarik. Dalam boekoeberdjoedoel Peranakan Idealis, Dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya toelisan H Junus Yahya dinjatakan bahwa Lie terlibat dalam peristiwa Pemberontakan 1926 di Banten.
Dia ditoedoeh sebagai otak jang menggerakkan massa melakoekan peroesakan djalan, djembatan, rel kereta api serta roemah dan kantor milik orang Belanda.
Ini meroepakan bentoek protes dan perlawanan terhadap pemerintah Belanda jang menindas rakjat. Terlebih lagi dikatakan tak semoea orang jang memimpin pergerakan itoe berideologi komunis. Banjak diantaranja menganoet paham nasionalis.

Ditoedoeh menggerakkan massa oentoek memberontak akhirnja memboeat Lie mendjadi boeronan. Dia di-kedjar2 pemerintah Belanda.

Lie Eng Hok kemowdian melarikan diri ke Semarang. Oentoek menjamarkan djati dirinja, dia memboeka oesaha djoeal beli boekoe bekas di sekitar Pasar Djohar. Dari aktivitas bisnisnja terseboet ternjata memboeat dia sering bertemoe dengan orang-orang Belanda.

Tanpa diduga Lie jang semasa moedanja aktif sebagai wartawan Sin Po itoe mendapatkan info-info jang terkait dengan soal2 politik. Informasi penting itoe kemudian disampaikan kepada kawan2 pergerakan.

Lie jang dikabarkan dekat dengan W.R. Supratman seringkali menjelipkan info berharga ke dalam boekoe loakan laloe menjerahkan pada rekannja.

Pria kelahiran Desa Balaraja, Tangerang itoe djoega sering mentjarikan penginapan bagi tokoh2 pergerakan djika ada rapat di Semarang.

Ketika aksi Lie teroengkap. Dia tertangkap basah saat menjerahkan boekoe jang disisipi informasi pada rekannja. Lie Eng Hok kemoedian didjatoehi gandjaran hoekoeman pengasingan di Boven Digoel.

Di masa pengasingannja itoe dia mentjari penghasilan tambahan dengan bekerdja sebagai toekang tambal sepatoe bersama U Pardedeh, bekas Hoofd Redacteur Soeara Kita Pematang Siantar. Lie Eng Hok mendekam di poesat pengasingan tahanan politik pemerintah kolonial Belanda sepandjang lima tahoen, antara 1927 – 1932.

Setelah bebas dia kembali ke Semarang oentoek berbisnis boekoe loakan lagi. Tanggal 27 Desember 1961 Lie Eng Hok meninggal doenia dan dimakamkan di kompleks pekuburan Tionghoa Kedoengmoendoe.

Pada masa pemerintahan Soekarno, dia dinjataken sebagai perintis kemerdekaan RI berdasarkan SK Menteri Sosial RI No. Pol 111 PK tertanggal 22 Januari 1959. Atas anoegerah itu Lie berhak mendapatkan toenjangan oeang sebesar Rp. 400 per boelan.

Pada tahoen 1986 kerangka Lie Eng Hok dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal setelah disahkannja SK Pangdam IV/Diponegoro No B/678/X/1986.



Itoelah sepenggal kisah dari Lie Eng Hok. Seorang peranakan Tionghoa jang telah terboekti memiliki djiwa nasionalis jang tinggi. Dia bahkan berani mengambil resiko besar demi membantoe pergerakan dalam memperdjoeangkan kemerdekaan. (Thomas Joko).
Maaf, sebagai warga priboemi, kita sekarang ini haroesnja memiliki rasa nasionalisme jang lebih tinggi daripada beliaoe.

Source : http://forum.detik.com/showthread.php?t=50073

Sabtu, 09 April 2011

Legenda : Asal Mula Nama Desa Tembalang

oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 05 Juni 2010 jam 9:17




Konon, ketika Raden Pandan Arang mengadakan pertemuan dengan para santri dan abdi dalem, Raden Pandan Arang atas saran para pengikutnya, berkeinginan melakukan perjalanan ke wilayah selatan Semarang.

Dengan berbekal secukupnya, Raden Pandan Arang dengan tidak kurang dari lima puluh orang santri dan abdi dalem berjalan ke arah selatan. Karena medan yang mereka tempuh naik turun gunung atau perbukitan, perjalanan mereka tidak selancar ketika melakukan perjalanan ke arah barat. Namun, mereka semua bergembira dan tidak nampak keletihan.

Mereka semua terhibur oleh indahnya panorama alam yang mereka saksikan. Dari salah satu bukit yang mereka lalui, tampak di kejauhan Laut Jawa yang membiru. Pemandangan seperti itu belum pernah mereka saksikan dalam perjalanan mereka sebelumnya.

Mengetahui kegembiraan dari para pengikutnya, Raden Pandan Arang berpesan, " Betul. Saya pun merasakan demikian. Ternyata, alangkah indahnya wilayah kita. Oleh karena itu, jagalah semua itu. Jangan saudara2 cemari dengan perbuatan2 yang tidak terpuji. Misalnya, menebangi pohon. Laut yang membiru seperti itu jangan dicemari sampah2 di tepinya atau sungai yang mengarah ke sana."

Tidak berapa jauh dari tempat Raden Pandan Arang dan para pengikutnya beristirahat, ada sebuah perkampungan yang sudah cukup banyak paneduduknya. Kehidupan mereka amat rukun. Dari sisi ekonomi, dapat dikatakan mereka tidak pernah kekurangan. Tanah di daerah itu amat subur. Segala janis tanaman dapat hidup. Mereka sebagian besar hidup dari bertani.

Di wilayah itu terdapat sembilan mata air, yang oleh penduduk setempat dikenal dengan istilah <1>"tuk sanga". <1>Tuk adalah bahasa Jawa yang artinya "mata air"; sedangkan sanga artinya "sembilan". Semula keberadaan ke sembilan mata air tersebut tidak menjadi masalah. Bahkan sangat menguntungkan bagi penduduk setempat, apalagi air yang keluar dari ke sembilan mata air tersebut sangat jernih. Oleh penduduk, air tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci serta memasak, melainkan juga untuk mengairi tanam-tanaman mereka.

Akan tetapi, dua tiga bulan terakhir, keberadaab tuk sanga tersebut menimbulkan masalah bagi penduduk. Masalahnya, air yang keluar dari ke sembilan mata air itu amatlah banyak. Akibatnya air menggenang di berbagai tempat. Bahkan kemudian terbentuklah sebuah danau yang semakin lama semakin besar.

Penduduk pun dengan bergotong royong berusaha menutup lubang-lubang mata air itu, tetapi selalu gagal. Tanah, bahkan batu-batu yang besar yang mereka gunakan untuk menutup mata air-mata air itu selalu saja tenggelam. Masyarakat menjadi panik dibuatnya.

Pada saat masyarakat setempat hampir putus asa itu, munculah Raden Pandan Arang beserta rombongannya.

Sesaat Raden Pandan Arang mengambil air wudhu. Setelah itu beliau menggelar sajadah dan sholat. Setelah sholat beliau berdo'a lama sekali.

Setelah selesai berdo'a, beliau berkata :
"Saudara-saudara, sepeninggal kami dari desa ini, insya Allah mata air-mata air itu akan segera tidak mengeluarkan air lagi. Cuma satu yang tersisa. Itu masih saudara-saudara perlukan untuk kehidupan sehari-hari. Pesan saya, jagalah kebersihan mata air tersebut, kedua, berilah nama desa ini Tambalang"..

"Titah Raden akan kami laksanakan. Akan tetapi, kalau boleh kami tahu, apa arti Tambalang tersebut paduka?" tanya salah seorang penduduk.

"Tembalang itu berasal dari kata tambal dan hilang. Bukankah saudara-saudara berkali-kali menambal lubang-lubang mata air-mata air tadi, tetapi selalu hilang bukan?".

Raden Pandan Arang beserta rombongan segera meninggalkan tempat itu. Keajaiban pun terjadi. Bersamaan dengan kepergian beliau dari tempat itu, sedikit demi sedikit air yang keluar dari mata air-mata air itu pun semakin mengecil. Akhirnya berhenti sama sekali, bertepatan dengan hilangnya Raden Pandan Arang beserta rombongan dari pandangan mata para penduduk. Tingal sebuah mata air yang masih mengeluarkan air seperti yang dikatakan Raden Pandan Arang. Itu pun dengan aliran yang tak seberapa besar.

Sejak itu, daerah atau desa itu dikenal orang dengan nama Tambalang. Lama kelamaan orang menyebutnya Tembalang sampai sekarang.

Sekarang, daerah ini amat terkenal karena di situlah kampus baru Universitas Diponegoro berada.


Legenda : Goa Kreo dan Nama Jatingaleh

oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 05 Juni 2010 jam 9:39





Konon Legenda Gua Kreo tak terpisahkan dengan legenda asal mula nama Jatingaleh, sebuah kelurahan di lereng Bukit Gombel, Kecamatan Candisari, Kota Semarang. Dikisahkan, dahulu seorang wali yang punya kemampuan lebih, seperti Sunan Kalijaga, dapat berkomunikasi dengan tumbuhan dan binatang. ... Lihat SelengkapnyaBahkan, ada pula pohon-pohon yang dipercaya bisa berpindah tempat.

Menurut legenda, kayu jati yang akan digunakan sebagai salah satu saka guru Masjid Agung Demak, adalah potongan kayu dari pohon jati yang berada di lereng Bukit Gombel. Ajaibnya, sewaktu Sunan Kalijaga akan mengambil kayu jati di kawasan tersebut, ternyata pohon jati itu sudah tidak ada.

Sunan Kalijaga kemudian mencari ke mana pohon jati itu berpindah. Dia terus mencari sampai ke hutan yang saat ini dikenal sebagai kawasan Gua Kreo. Sedangkan tempat asal pohon jati itu kemudian diberi nama Jatingaleh (bahasa Jawa) yang artinya ”jati berpindah”.

Akhirnya Sunan Kalijaga menemukan kayu jati yang berpindah itu, tetapi berada di tempat yang sulit untuk diambil. Dia kemudian bersamadi di dekat sebuah gua, hingga datang empat ekor kera, masing-masing berbulu merah, kuning, putih, dan hitam. Kera-kera itu menyampaikan niat baik ingin membantu Sunan Kalijaga mengambil kayu jati yang diinginkan. Sunan Kalijaga menerima bantuan mereka dengan senang hati, akhirnya kayu jati itu berhasil diambil dari tempat yang sulit.

Saat Sunan Kalijaga dan sahabat-sahabatnya hendak membawa kayu jati itu ke Kerajaan Demak untuk dibuat saka guru Masjid Agung Demak, keempat kera itu menyatakan ingin ikut serta. Karena mereka bukan manusia, Sunan Kalijaga keberatan. Namun sebagai balas jasa, kera-kera itu mendapat anugerah kawasan hutan di sekitar gua. Mereka diberi kewenangan ngreho (bahasa Jawa) yang berarti ”memihara” atau ”menjaga”. Dari kata ngreho itulah nama Gua Kreo berasal, dan sejak itu kera-kera yang menghuni kawasan ini dianggap sebagai pemelihara atau penjaga.

Sampai sekarang, Gua Kreo yang terletak di lereng Bukit Kreo, termasuk objek paling favorit yang didatangi pengunjung. Menurut Karyadi, kedalaman gua mencapai 25 meter. Sekitar 10 meter di sebelah kanan Gua Kreo, ada lagi sebuah gua bernama Gua Landak.

”Gua Landak kedalamannya 30 meter. Tapi gua ini dibuat oleh pengelola Gua Kreo, bukan petilasan Sunan Kalijaga,” kata Karyadi.
Bagi pengunjung yang punya nyali, banyak yang berani memasuki kedua gua itu hanya untuk berfoto-ria. Selanjutnya, kami melacak petilasan Sunan Kalijaga ke puncak Bukit Kreo yang berketinggian 350 meter di atas permukaan laut. Di situ terdapat monumen batu.

Monumen ini dibangun untuk menandai petilasan Sunan Kalijaga saat dia bersama sahabat-sahabatnya dan empat kera yang membantu, mengadakan acara selamatan dengan makan bersama, sebagai rasa syukur mereka telah berhasil mengambil kayu jati dari tempat yang sulit. Lauknya adalah sate kambing.

Seusai makan, tusuk-tusuk sate itu dibuang ke tanah hingga terdengar suara gemerincing. Tempat dibuangnya tusuk sate itu kemudian tumbuh serumpun bambu yang dinamakan bambu kerincing. Ajaibnya, batang bambu itu ketika dipatahkan tercium aroma daging kambing.

Rabu, 30 Maret 2011

Asal mula nama "Lemah Gempal" dan "Plered"

oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 04 Juni 2010 jam 18:29
Plered



Sejak zaman dulu, Semarang sering dilanda banjir. Hal itu tidak mengherankan mengingat daerah itu terletak di pantai; sementara di tengah kota itu melintas sebuah sungai besar.

Keadaan seperti itu amat meresahkan masyarakat, lebih2 pada musim penhujan. Dapat dipastikan, setiap kali hujan datang, banjir pun pasti datang. Jika terjadi banjir tidak sedikit harta benda penduduk yang hanyut dibawa air. Bahkan sering pula membawa korban jiwa.

Pemerintah kolonial Belanda yang ketika itu menguasai Semarang juga amat gelisah menghadapi hal itu. Setiap kali datang banjir dapat dipastikan gedung2 pemerintah juga terlanda banjir. Akibatnya, tidak sedikit surat2 penting basah atau hilang terbawa air. Lingkungan pun menjadi tampak kumuh dan tidak sehat.

Pemerintah Belanda mencari akal untuk menanggulangi banjir tersebut. Untuk itu, dikumpulkannya para insinyur pembangunan dari seluruh kantor pemerintah yang ada di Semarang. Diputuskanlah, untuk menanggulangi banjir itu ialah dengan membuat kanal. Kanal adalah parit besar yang berfungsi sebagai sungai. Sebagian aliran dari sungai induk dialirkan melalui kanal tersebut. Dengan cara demikian, aliran sungai menjadi lebih kecil sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya banjir.

Lalu dimulailah membangun dua buah kanal, yakni di Semarang bagian timur dan sebuah lagi di Semarang bagian barat. Kedua kanal itu kenudian dikenal dengan sebutan Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal barat. Maksudnya, kanal yang berfungsi untuk mengurangi banjir di wilayah bagian timur dan kanal yang berfungsi untuk mengurangi banjir yang terjadi di wilayah bagian barat Semarang.

Konon, ketika membangun kanal sebelah barat, para pekerja sempat dibuat bingung. Ada suatu tempat yang sangat sulit dikerjakan. Di tempat2 lain, tanah2nya mudah digali dan tanah galian itu pun dengan mudah ditumpuk pada kanan kiri lubang galian sehingga tanggul2 dapat terbentuk dengan baik.

Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan pengerjaan di tempat yang dimaksud. Di tempat itu, tanah2 hasil galian yang sudah dipinggirkan untuk dijadikan tanggul selalu longsor. Ber kali2 diperbaiki, ber kali2 pula longsor. Para pekerja menjadi bingung, lebih2 para insinyurnya. Berbagai teknik dicobakan untuk menanggulangi hal itu. Ternyata selalu gagal.

Salah seorang pekerja bangunan akhirnya menemukan akal. Ia yakin, apa yang terjadi itu benar2 di luar kemampuan akal.

"Bagaimana kalau kita carikan orang pintar?" begitulah ia suatu ketika bertanya atau minta persetujuan dari teman2nya.

"Kalau memang demikian yang terbaik, kenapa tidak?", salah seorang temannya menjawab.

"Ya...ya betul. Saya mendengar di dekat tempat ini ada seorang kyai yang amat sakti," salah seorang dari mereka menimpali.

"Bagaimana kalau kita minta tolong kepadanya?", tanya salah seorang di antara mereka.

"Ya, betul. Saya setuju. Daripada pekerjaan ini tidak pernah selesai," beberapa orang di antara mereka saling bersahutan.

Sementara itu, di sisi lain para insinyur terus berembug mencari jalan untuk menanggulangi hal tersebut. Selalu saja teori mereka gagal bila sudah diterapkan di lapangan. Tanggul itu selalu saja runtuh bergantian tempat. Sampai ber minggu2 pekerjaan itu belum juga selesai. Akhirnya para para insinyur itu pun angkat tangan, menyerah.

Pada waktu itu, salah seorang wakil pekerja mendatangi pimpinan proyek dan mendesak agar pimpinan itu meminta bantuan "Sang Kyai".
Singkat cerita diutuslah dua orang pekerja menemui Sang Kyai.
"Maaf, kisanak, saya sudah tahu kedatangan kisanak kemari, soal tanggul yang selalu gempal itu, bukan?"

"Betul Kyai."

"Baiklah. Ambil sebuah batu dari sebelah kanan rumah ini dan sebuah lagi dari sebelah kiri rumah ini. Tanamlah ke dua buah batu itu pada salah satu bagian tanggul yang sedang dikerjakan. Dengan izin Allah mudah2an tidak akan gempal lagi tanggul itu. Pulanglah kisanak dan jangan sekali2 menoleh ke belakang samapi tiba di rumah."

Pesan Sang Kyai dilaksanakan. Sesampai di tempat mereka mengerjakan tanggul, ditanamlah kedua batu yang mereka bawa dari rumah Sang Kyai. Pada saat itu, terjadilah suatu keajaiban. Reruntuhan tanah bekas tanggul tersebut kembali menyatu. Bagian2 tanggul yang semula longsor per-lahan2 menjadi utuh. Sejak itu penyelesaian tanggul selalu lancar.

Konon, bermula dari kejadian itulah daerah tersebut kemudian dikenal masyarakat dengan nama Lemah Gempal (Lemah dalam bahawa Jawa berarti tanah; gempal berarti longsor atau bongkah).

Sementara itu, tidak jauh dari tempat itu, arah ke hulu sungai atau kanal, dibangun sebuah pintu air. Gunanya untuk mengatur aliran air. Dari tempat itu aliran air dibagi menjadi dua arah. Pertama, diarahkan ke utara, yakni ke laut. Ke dua, diarahkan ke timur, ke kota; dimaksudkan untuk digunakan penduduk berkaitan dengan keperluan mereka se hari2.

Untuk mengatur jalan air tersebut, di tengah kanal dibangun sebuah tanggul (bendungan). Tanggul itu dibangun sedemikian rupa. Satu sisi, dibuat tegak lurus. Sisi ini ialah yang dipakai untuk mengatur arus air yang ke laut dan yang ke kota. Sisi yang lain, dibuat landai sekadar air dapat mengalir dengan lancar atau tidak terlalu deras.

Tempat yang landai ini ternyata menarik perhatian penduduk, terutama anak2. Mereka memanfaatkan tempat itu untuk mandi2 sambil bermain 'pleredan' (meluncur yang dilakukan ber-kali2, luncur2an).

Sampai sekarang tempat tersebut dan sekitarnya dikenal dengan nama "Plered".

KESIMPULAN :
Cerita ini tergolong legenda.

Petilasan Kanjeng Sunan Kuning

Petilasan Kanjeng Sunan Kuning

oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 04 Juni 2010 jam 22:07



Konon, di suatu tempat, hidup seorang petani kaya bernama Saribin. Dia memiliki ratusan kerbau dengan kandang yang amat luas.

Pada suatu malam, seluruh kerbaunya hilang, tidak ada seorangpun yang bisa dimintai keterangan. Saribin berusaha mencari kerbau2nya ber hari2 bahkan ber minggu2. Tidak terasa, perjalanan Saribin sampai di perbukitan kembar yang dikenal dengan nama Widoro Kandang dan Widoro Kayangan. Pepohonan di kedua perbukitan tersebut tumbuh subur sehingga udara terasa sejuk dan nyaman.

Saribin melepaskan lelah, dia duduk di bawah sebatang pohon. Karena kelelahan dia pun tertidur. Dalam tidurnya, Saribin bermimpi didatangi seorang tua, berambut dan berjenggot putih serta berpakaian serba putih. Dengan suara ketuaannya dan ter patah2, orang tua itu berkata kepada Saribin,

"Le, Saribin, kamu tidak usah bersedih. Kerbau2mu tidak hilang. Sayalah yang mengambilnya. Sengaja saya pinjam untuk membersihkan rumput2 di tempat ini. Saya minta maaf. Apa yang saya lakukan itu menyusahkanmu. Sekarang bangunlah. Bawalah kerbau2 muitu!".

Begitu selesai berucap, orang tua itu pun lenyap, namun pada saat bersamaan datang angin cukup kencang dengan membawa aroma yang sangat harum.

Saribin terkejut, dan terbangun. Dia hampir tak percaya dengan apa yang disaksikannya. Seluruh Kerbau miliknya ada di depan matanya sekarang. Yang lebih mengherankannya lagi, udara di sekitarnya masih bearoma yang sangat harum seperti di mimpinya.

Digiringnya kerbau2 miliknya kembali pulang ke kandang. Tidak seperti saat dia berangkat, perjalanan pulangnya kini dirasakan sangat ringan dan cepat, terlebih lagi aroma harum itu masih saja menyertainya sampai Saribin masuk ke dalam rumahnya.

Sambil melepaskan lelah, Saribin merenungkan seluruh kejadian yang dialaminya. Ia berkeyakinan bahwa perbukitan tempat dia beristirahat itu ditempati makhluk ghoib.

Saribin akhirnya mengambil keputusan hendak bertapa di tempat itu. Ia pun kembali ke tempat itu dan di situlah kemuduan dia duduk bersila melepaskan semua keinginan keduniawiannya. Makan, minum dan tidur pun dia tinggalkan.

Saribin bertekad tidak akan meninggalkan tempat itu sebelum mendapatkan sesuatu yang melegakan hatinya. Hingga pada suatu malam, antara sadar dan tidak, datanglah di hadapannya orang tua yang dulu pernah menemuinya dalam mimpi. Wajahnya amat bersih, berjenggot putih dan berpakaian serba putih pula.

"Hai, Saribin, kerbau2 mu sudah kau temukan bukan?"

"Sudah, Mbah,"

"Nah, karena kerbau2mu sudah saya kembalikan, sekarang saya ingin meminta sesuatu kepadamu. Bagaimna? Sanggup kamu memenuhinya?"

"Akan saya usahakan untuk memenuhinya, Mbah."

"Bagus. Tempat yang kau gunakan untuk bertapa ini, dahulu pernah digunakan untuk beristirahat dan berunding tiga sunan yang terkenal di Pulau Jawa ini."

"Aduh, kalau begitu saya minta maaf, Mbah. Saya tidak tahu," kata Saribin dengan gemetar.

"Tidak apa-apa, Le. Ke tiga Sunan itu pertama Kanjeng Sunan Kuning atau Mangkurat Mas. Kedua, Kanjeng Sunan Kali atau Mangkurat Man. Ketiga, Kanjeng Sunan Ambarawa atau Syekh Maulana Maghribi Kendil Wesi.
Setiap sunan dikawal oleh seorang penasihat. Sunan Kuning dikawal oleh Kyai Sekabad. Sunan Kali dikawal oleh Kyai Jimat. Sunan Ambarawa dikawal oleh Kyai Majapahit.
Pada saat berunding itu, ketiga sunan duduk berjajar dari barat ke timur. Yang duduk paling barat adalah Sunan Kuning. Di tengah Sunan Kali dan yang timur Sunan Ambarawa. Merka duduk di atas batu.
Pesan saya, rawatlah baik2 tempat ini. Mudah2an Allah akan memberi kemudahan kepada engkau dan anak keturunanmu dalam mencari rezeki, le. Tetapi ingat, setelah cukup uangmu, bergegaslah engkau ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji."

Begitu selesai kalimat itu, hilang pulalah orang tua itu.
Sejak saat itu, Saribin merawat tempat tersebut dengan baik. Kehidupan Saribin semakin membaik, hasil pertaniannya melimpah, kerbau2 nya beranak pinak. Sesuai amanat yang diterimanya, Saribin pergi ke Tanah Suci.

Akhirnya, ke tiga petilasan itu dibuatkan pelindung (berupa rumah kecil) oleh Saribin. Pada hari2 tertentu, khusunya malam Jum'at kliwon, banyak penduduk sekitar yang datang berziarah ke tempat itu. Saribin kemudian dikenal sebagai juru kunci petilasan tersebut.

Sampai sekarang, ketiga petilasan itu masih ada. Tempat itu kini lebih dikenal dengan Sunan Kuning dan terletak di Wilayah Kecamatan Semarang Barat, Kelurahan Kalibanteng Kulon, lebih satu setengah kilometer dari Bandara Ahmad Yani.

_________________________________

Masjid Tiban, Makam Aulia Sunan Kuning
Date November 7, 2007

Tidak banyak yang tahu siapa Sunan Kuning. Nama ini lebih dikenal sebagai tempat nista di Semarang. Sunan Kuning sebenarnya adalah Raden Mas Garendi, a.k.a Sunan Amangkurat III, salah satu raja dalam trah Kerajaan Mataram dan pecahan-pecahannya. Sunan Kuning termasuk murid Sunan Kalijaga, satu angkatan dengan Sultan Hadiwijaya (Pajang), Ki Ageng Pamanahan, Ki Ageng Penjawi, dan Ki Juru Martani.

Tidak banyak yang tahu juga di mana makamnya. Ternyata makam Sunan Kuning ada di Ds. Macanbang, Kabupaten Tulungagung. Makamnya ada di belakang masjid yang dikenal orang sebagai Masjid Tiban. Namun demikian — tanpa bermaksud buruk — seperti halnya makam-makam tua, tempat ini lebih banyak digunakan sebagai kegiatan syirik seperti pencarian nomor togel, wangsit, pusaka, dll.

Berikut foto-fotonya:

Atap masjid yang khas.

Ruangan utama masjid. Kelihatan sekali kalau masjid ini sudah tua sekali.

Asal Mula Nama Pasar Johar, Pasar Randusari, Pasar Bulu dan Bulu Stalan


oleh Welcome To Semarang, Indonesia pada 04 Juni 2010 jam 23:14

Kesalehan hidup Raden Pandan Arang atau Pangeran Pandan Arang dan keadilan pemerintahannya menjadikan Semarang terkenal, salah satu tempat yang menjadi pusat perdagangan kala itu ialah tempat yang kini dikenal dengan nama Pasar Johar.

Asal mula sebutan Pasar Johar, konon para pedagang menjajakan dagangannya di tempat terbuka. Mereka tidak berani mendirikan tenda2 atau gubuk2 karena ada larangan dari Pangeran. Larangan mendirikan tenda2 atau gubuk terpaksa dikeluarkan karena menurut Pangeran akan menjadikan tempat tersebut menjadi kumuh.

Pada suatu ketika, datang utusan perwakilan pedagang menghadap Pangeran. Mereka mohon agar Pangeran dapat menizinkan mereka untuk mendirikan tenda2 atau gubuk dan mereka berjanji akan menjaga kebersihan tempat itu sebaik-baiknya, namun jawab Pangeran,

"Yang terpenting kalian tidak terlalu panas ketika jual beli, bukan?. Baiklah. Akan kuberikan kepada kalian beberapa batang bibit pohon johar. Tanamlah bibit pohon itu di tempat kalian berjual beli. Dengan pertolongan Allah, kelak pohon2 itu akan hidup subur dan dapat menjadikan tempat teduh tempat kalian berjual beli. Perlu kalian ketahui bahwa manfaat pohon2 itu akan dapat dirasakan pula oleh masyarakat sekitar."

Keajaiban pun terjadi, pohon2 itu dalam waktu yang relatif singkat telah tumbuh dengan suburnya. Daerah itu menjadi tempat yang nyaman. Udaranya terasa sejuk, tidak lagi banyak debu beterbangan dan sinar matahari pun tidak lagi terasa menyengat.

Sejak itu masyarakat menyebut pasar tempat mereka berjual beli itu "Pasar Johar".

Diceritakan selanjutnya, Pangeran Pandan Arang memiliki mkegemaran ber jalan2 me liha2 kehidupan rakyatnya. Pada suatu hari, perjalanan Pangeran beserta para punggawa dan santrinya sampai di suatu pasar yang cukup ramai. Tidak mengherankan karena tempat itu teduh, udaranya nyaman, dan hampir semua barang yang dibutuhkan masyarakat ada di situ. Di tempat itu tumbuh sejumlah pohon randu yang amat rindang.


Karena pasar tersebut belum pernah dinamai siapa pun, maka Pangeran memberi nama pasar tersebut. "Pasar Randu Sari". Sari artinya ramai, sedangkam kata randu karena pasar tersebut berada di bawah pohon2 randu.

Konon, setelah berisitirahat beberapa saat di Pasar Randu Sari, Pangeran Pandan Arang beserta rombongan meneruskan perjalanan ke arah barat. hal itu dilakukan karena berdasarkan laporan, di wilayah itu banyak penduduk atau masyarakat yang hidupnya susah.

Belum berapa jauh dari Pasar Randu Sari, rombongan Pangeran menjumpai tempat masyarakat berjual beli yang tak kalah ramainya dengan Pasar Randu Sari. Kecuali lebih ranai, tempat itu tampak lebih nyaman dan lebih bersih. Di tempat itu banyak pohon2 rindang tumbuh dengan suburnya.


Karena di tempat tersebut kebetulan banyak ditumbuhi pohon2 bulu yang sangat rindang, maka Pangeran menamakannya "Pasar Bulu".

Sejak itu, pasar itu dikenal masyarakat dengan Pasar Bulu sampai sekarang. Keramaian Pasar Bulu dengan berbagai kegiatan perdagangannya dan wajah perkampungan sekitar Pasar Bulu dengan kandang-kandang kudanya. Keadaan tersebut berlangsung terus sampai kedatangan bangsa Belanda di Semarang.

"Wah, banyak staal di sini, ya?" kata seorang Belanda yang lewat di Pasar Bulu.

"Staal? Apa itu, staal, Tuan?" tanya salah seorang pribumi yang tengah memperhatikannya.

"Staal... staal itu tempat kuda," jawab orang Belanda tersebut.

"Maksud Tuan, kandang kuda?"

"Betul, kandang kuda".

"Oh, ya. Di sini memang banyak tempat stalan" kata orang pribumi itu dengan bangga.

Dalam perjalanan waktu, akhirnya daerah itu terkenal dengan sebutab "Bulu Stalan". Maksudnya, daerah di sekitar Pasar Bulu yang banyak "staalnya", banyak kandang kudanya.